NARASITODAY.COM, NEW DELHI – Di tengah bayang-bayang penurunan produksi tebu dan gejolak energi global, India mengambil langkah tegas untuk tidak menarik diri dari pasar internasional. Pemerintah India menegaskan tidak memiliki rencana untuk membatasi ekspor gula, meski ladang-ladang di Maharashtra dan Uttar Pradesh sedang berjuang menghadapi penurunan hasil panen.
Pernyataan ini menjadi angin segar bagi pasar komoditas global yang sempat khawatir India akan melakukan proteksionisme pangan demi mengamankan stok etanol domestik.
Komitmen di Tengah Krisis Energi
Sekretaris Pangan India, Sanjeev Chopra, menepis spekulasi bahwa pemerintah akan mengalihkan pasokan gula untuk produksi bahan bakar nabati (etanol) sebagai respons atas gangguan pasokan minyak mentah akibat ketegangan perang di Iran.
“Tidak ada rencana untuk membatasi ekspor gula,” tegas Chopra pada Selasa (7/4/2026), menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan larangan ekspor dalam waktu dekat.
Saat ini, India telah mengizinkan kuota ekspor sebesar 1,59 juta ton metrik. Namun, realisasinya diprediksi akan lebih ramping. Menurut Deepak Ballani, Direktur Jenderal Indian Sugar & Bio-energy Manufacturers Association, proyeksi ekspor untuk tahun pemasaran 2025/26 kemungkinan hanya akan menyentuh angka 750.000 hingga 800.000 ton hingga September mendatang.
Penurunan produksi gula nasional yang kini diperkirakan berada di angka 32 juta ton turun dari estimasi Februari sebesar 32,4 juta ton ternyata diikuti oleh fenomena unik di sisi konsumen. Gula tidak sedang langka di pasar domestik, melainkan permintaannya yang justru sedang lesu.
Penyebabnya bukan karena perubahan selera masyarakat, melainkan masalah logistik yang tak terduga. Kelangkaan tabung gas komersial telah memaksa banyak restoran dan industri kuliner membatasi jam operasional mereka tepat di tengah musim liburan musim panas yang biasanya sibuk.
- Maret: Konsumsi gula turun sekitar 200.000 ton.
- April: Penurunan serupa diprediksi akan kembali terjadi.
Penurunan serentak pada permintaan gula dan minyak nabati ini secara tidak sengaja memberikan “ruang napas” bagi pemerintah untuk tetap mengizinkan komoditas manis ini melenggang ke pasar luar negeri tanpa mengganggu stabilitas dalam negeri.
Menjaga Keseimbangan Ganda
Sebagai produsen gula terbesar kedua di dunia, setiap gerak-gerik kebijakan New Delhi selalu menjadi pusat perhatian. Dengan tetap dibukanya keran ekspor, India berupaya menjaga keseimbangan antara komitmen perdagangan internasional dan ketahanan energi domestik lewat program etanolnya.
Meski produksi tebu di wilayah kunci seperti Uttar Pradesh sedang melandai, untuk saat ini, manisnya gula India dipastikan akan tetap bisa dirasakan oleh pasar dunia.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














