NARASITODAY.COM,LAS VEGAS – Aroma persaingan antara dua legenda tinju dunia, Manny Pacquiao dan Floyd Mayweather Jr., kembali memanas. Di balik rencana duel ulang yang dinanti publik, Pacquiao meluncurkan serangan verbal tajam, menuding sang rival mencoba “main aman” dengan mengubah status pertandingan yang telah disepakati.
Isu ini mencuat setelah Mayweather secara sepihak menyebut laga yang dijadwalkan pada 19 September mendatang hanyalah sebuah ekshibisi, bukan duel profesional yang akan memengaruhi rekor bertanding mereka.
Persoalan Kontrak dan Uang Muka
Pacquiao menegaskan bahwa hitam di atas putih telah jelas. Menurut “Pacman”, keduanya telah menandatangani kontrak untuk pertarungan profesional resmi yang rencananya akan disiarkan secara global oleh Netflix. Bahkan, ia mengungkapkan bahwa Mayweather telah menerima pembayaran awal.
“Itu [laga ekshibisi] bukanlah hal yang kami tandatangani. Dia sudah mendapat uang muka. Mengapa ia mulai mengumumkan sebuah propaganda bahwa ini adalah laga ekshibisi?” ujar Pacquiao dengan nada heran.
Petinju kebanggaan Filipina itu mengingatkan adanya konsekuensi hukum yang berat jika Mayweather mencoba mangkir dari kesepakatan awal. “Bagi saya, dia tidak bisa begitu saja lari dari kontrak karena dia akan menghadapi banyak konsekuensi bila ia tidak jadi bertarung dan gagal memenuhi komitmennya,” tuturnya.
Sentuhan rivalitas lama begitu terasa dalam pernyataan Pacquiao. Ia menilai alasan utama Mayweather mengubah narasi adalah ketakutan akan hilangnya rekor mentereng 50-0 (tak terkalahkan) yang selama ini menjadi identitas utama sang petinju berjuluk The Money tersebut.
Pacquiao berargumen bahwa status “tak terkalahkan” adalah satu-satunya daya tarik yang membuat Mayweather tetap laku di pasar tinju meski sudah lama pensiun dari laga kompetitif.
“Saya pikir dia takut mengalami kekalahan. Itu adalah daya tawar dan nilai jualnya, untuk bisa berkeliling dan melakukan laga ekshibisi lantaran status tak terkalahkan miliknya,” cetus Pacquiao. “Bila rekor itu terhenti, hal apa lagi yang bisa membuatnya punya daya tawar?”
Ketidakpastian status laga ini kembali mengaburkan rencana pertemuan kedua mereka setelah lebih dari satu dekade. Sebelumnya, keduanya sempat bertemu dalam duel bertajuk “Fight of the Century” pada tahun 2015, di mana Mayweather keluar sebagai pemenang melalui keputusan angka mutlak.
Bagi Pacquiao, duel profesional kali ini adalah kesempatan emas untuk membalas kekalahan tersebut sekaligus memberi noda pada rekor suci Mayweather. Namun, bagi Mayweather, mempertaruhkan rekornya di usia sekarang tentu menjadi risiko yang sangat besar.
Kini, bola panas berada di tangan pihak promotor dan Mayweather. Apakah laga 19 September akan menjadi pertarungan sejati yang mempertaruhkan reputasi, atau sekadar panggung sandiwara ekshibisi untuk memuaskan rasa rindu penggemar? Publik tinju dunia masih menunggu jawaban pastinya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














