Optimisme Pemerintah tentang Investasi Asing di Indonesia Masih Dipertanyakan Para Ekonom

0
pemerintah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto : relung.id

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Optimisme memancar dari delegasi Indonesia dalam rangkaian IMF Spring Meetings pekan ini. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa kabar segar yaitu para investor kakap Amerika Serikat disebut-sebut telah bersiap memboyong modal besar ke Tanah Air.

Namun, di balik narasi optimis tersebut, realitas di lantai bursa dan pasar obligasi justru membisikkan cerita yang berbeda. Indonesia saat ini ibarat gadis cantik di sebuah pesta; banyak yang melirik, namun belum banyak yang berani mengajak berdansa secara serius.

Bukan Dana Besar, Baru Sekadar Tertarik

Sejumlah ekonom menilai ada jurang antara klaim pemerintah dengan pergerakan angka di lapangan. Peneliti senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, menyebut bahwa minat investor asing memang masih ada, tetapi belum sampai pada tahap “banjir modal.”

Baca Juga :  Pemerintah Provinsi Jawa Barat Resmi Tetapkan UMP 2026, Menanti Pengumuman UMK di Tingkat Kabupaten dan Kota

“Jadi kalau dibilang masih positif, masih dan masih tertarik dengan Indonesia. Hanya saja, yang sekarang itu bukan berarti ada masuk dana asing besar ke Indonesia, belum kayak gitu,” ujar Deni kepada CNBC Indonesia, Jumat (17/4/2026).

Menurut Deni, para pemegang modal dunia saat ini sedang berada dalam posisi wait and see. Mereka duduk manis sambil mengamati seberapa kredibel kebijakan fiskal Indonesia dalam menghadapi badai gejolak global. Kehati-hatian ini tercermin jelas dari fluktuasi pasar saham yang sempat mencatat outflow besar, serta kenaikan premi risiko.

“CDS-nya (Credit Default Swap) juga naik dari sebelumnya sampai 75 basis poin. Lagi-lagi itu memperlihatkan risiko yang meningkat. FDI (Foreign Direct Investment) juga belum booming, tidak se-booming tahun-tahun sebelumnya,” tambah Deni.

Baca Juga :  Dunia Olahraga Diguncang Kasus Pelecehan, Erick Thohir Minta Sikap Tegas Tanpa Kompromi

Nada serupa datang dari M. Rizal Taufikurahman, Head of Center Macroeconomics and Finance INDEF. Ia menilai posisi Indonesia saat ini adalah “menarik, tapi penuh syarat.” Pertumbuhan ekonomi di angka 5% tidak lagi dianggap sebagai prestasi luar biasa oleh investor, melainkan hanya sebagai standar dasar (baseline).

Rizal menyoroti penurunan kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) yang kini hanya berada di kisaran 12%. Ini adalah sinyal merah bahwa investor menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk setiap rupiah yang mereka tanamkan.

“Posisi Indonesia saat ini bukan ‘sangat dipercaya’, melainkan masih menarik, tetapi tidak lagi tanpa syarat,” tegas Rizal.

Ujian Kredibilitas di Tengah Ketidakpastian

Investor global kini tidak lagi hanya terpaku pada angka pertumbuhan, melainkan pada konsistensi regulasi. Ketika muncul persepsi bahwa kebijakan fiskal bisa berubah secara mendadak atau menjadi lebih longgar tanpa kejelasan pembiayaan, para investor cenderung menarik diri ke zona aman (risk-off).

Baca Juga :  Woodball Indonesia Targetkan Sapu Bersih Enam Medali Emas di SEA Games 2025

Rizal mengingatkan bahwa di tengah suku bunga global yang tinggi dan dolar yang perkasa, Indonesia sangat rentan terhadap pembalikan arus modal yang tiba-tiba.

“Yang perlu dibenahi pemerintah bukan sekadar komunikasi, tetapi kredibilitas kebijakan itu sendiri. Disiplin fiskal harus dijaga secara konsisten, arah kebijakan harus jelas dan tidak berubah-ubah, serta kepastian hukum perlu diperkuat,” pungkas Rizal.

Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Apakah klaim investasi besar itu akan terwujud menjadi pabrik-pabrik dan lapangan kerja baru, ataukah hanya akan tetap menjadi catatan manis dalam laporan pertemuan di Washington? Waktu dan konsistensi kebijakan yang akan menjawabnya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com