NARASITODAY.COM, RAYONG – Peta industri otomotif Thailand tengah berguncang. Setelah dekade kejayaan sebagai “Detroit-nya Asia”, Negeri Gajah Putih kini menyaksikan para raksasa Jepang mulai angkat kaki. Menyusul Subaru, Suzuki pun resmi menghentikan operasional pabriknya sejak 2025 lalu akibat gempuran masif kendaraan listrik (EV) asal China.
Namun, di tengah awan mendung deindustrialisasi tersebut, sebuah optimisme muncul dari pabrik AutoAlliance Thailand (AAT). Perusahaan patungan antara Ford dan Mazda ini memilih jalan yang berbeda dalam menghadapi disrupsi teknologi dan otomatisasi.
Kolaborasi Manusia dan Mesin
Bagi banyak pekerja, kehadiran robot di lantai pabrik sering kali dianggap sebagai lonceng kematian bagi karier mereka. Namun, di AAT, teknologi justru diletakkan sebagai penopang beban kerja, bukan pengganti keringat manusia. Dengan target produksi mencapai 150.000 unit kendaraan per tahun, efisiensi memang harga mati, tetapi tidak dengan mengorbankan kesejahteraan karyawan.
Vice President Human Resources AAT, Satirayuth ‘Max’ Sangsuan, mengungkapkan bahwa kunci dari transisi ini adalah transparansi yang jujur kepada serikat pekerja.
“Ketika robot atau co-bot masuk, kami menjelaskan dengan jelas kepada karyawan bahwa mereka akan dipindahkan ke pekerjaan dengan tanggung jawab lebih tinggi,” ujar Max dalam podcast Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).
Max menegaskan komitmen perusahaan untuk tidak menjadikan otomatisasi sebagai alasan efisiensi tenaga kerja melalui PHK.
“Kami tidak pernah mengatakan bahwa dengan adanya robot, karyawan akan diberhentikan. Justru mereka akan mendapatkan peran yang lebih penting,” tegasnya.
Mengubah Konflik Menjadi Diskusi
Selain teknologi, AAT juga merombak budaya kerja di ruang kemudi manajemen. Jika biasanya hubungan industrial identik dengan meja negosiasi yang panas, AAT mengubahnya menjadi ruang diskusi yang konstruktif. Strategi ini diambil untuk menjaga stabilitas produksi di tengah tekanan pasar yang tidak menentu.
Menurut Max, pengalaman bertahun-tahun yang dimiliki pekerja lama adalah aset yang tidak bisa digantikan oleh algoritma manapun dalam menjaga standar kualitas global.
“Kami mengubah mindset dari negosiasi menjadi diskusi konstruktif. Dengan begitu, kedua pihak bisa mencapai solusi yang saling menguntungkan,” jelas Max.
Di saat pabrikan lain memilih untuk menutup gerbang pabrik mereka selamanya di Thailand, langkah AAT memberikan perspektif baru: bahwa keberhasilan industri masa depan bukan tentang siapa yang paling cepat mengganti manusia dengan mesin, melainkan siapa yang paling mampu memanusiakan teknologi.
“Kami percaya bahwa perusahaan tidak akan berhasil tanpa karyawan. Semua orang adalah bagian penting dari kesuksesan AAT,” pungkasnya.**
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














