Selat Hormuz Kembali Dibuka, Pesan Tumpang Tindih Iran-AS Bayangi Optimisme Pasar Global

0
Botswana
Ilustrasi Kepadatan kapal kargo yang menghambat lalu lintas maritim di Selat Hormuz.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TEHERAN – Selat Hormuz, “urat nadi” yang menyuplai sepertiga kebutuhan gas alam cair dan seperlima konsumsi minyak dunia, mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Pada Jumat (17/4/2026), sebuah pengumuman krusial datang dari dua kutub yang berseteru yaitu Iran dan Amerika Serikat secara bersamaan menyatakan bahwa jalur pelayaran vital tersebut kini terbuka bagi lalu lintas komersial.

Kabar ini bagaikan embusan angin segar bagi pasar global yang sempat sesak napas akibat ketegangan geopolitik. Keputusan ini menyusul pemberlakuan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang baru saja berjalan satu hari, memicu optimisme yang hati-hati di kalangan komunitas internasional.

Pesan yang Saling Bertolak Belakang

Meski gerbang selat mulai terbuka, atmosfer di permukaan air tetap tegang. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi pembukaan jalur tersebut melalui platform X.

Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka dan akan tetap terbuka selama sisa periode gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon,” tulis Araghchi.

Namun, di belahan dunia lain, Presiden AS Donald Trump memberikan catatan kaki yang tebal. Melalui Truth Social, ia menegaskan bahwa kebebasan bergerak tidak berlaku bagi semua orang.

Baca Juga :  Melangkah ke Masa Lalu Melalui 5 Pasar Tradisional Tertua di Dunia

Selat Hormuz sepenuhnya terbuka dan siap untuk aktivitas bisnis serta pelayaran penuh, namun blokade angkatan laut akan tetap berlaku sepenuhnya dan efektif khusus terhadap Iran saja, sampai kesepakatan kami dengan Iran benar-benar tuntas 100%,” tegas Trump.

Trump bahkan menambahkan bahwa tekanan militer terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tidak akan kendor hingga Teheran menyetujui kesepakatan baru, termasuk terkait program nuklirnya. Ironisnya, tak lama kemudian ia mengatakan kepada AFP bahwa titik akhir konflik sudah “dekat” dan tidak ada lagi “titik ganjalan” yang berarti.

Simpang Siur di Lapangan

Di internal Iran sendiri, situasi tampak sedikit kabur. Sementara Araghchi bicara soal keterbukaan total, laporan media pemerintah yang dekat dengan Garda Revolusi (IRGC) justru menyebutkan bahwa hanya kapal nonmiliter yang boleh lewat, itu pun wajib mengantongi izin dari IRGC.

Baca Juga :  Ketua DPRD Sastra Winara Dukung Penuh Penambahan Infrastruktur Dishub Bogor

Kantor berita Fars menyoroti adanya “keheningan yang aneh” dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, terutama di tengah masa transisi kepemimpinan baru di bawah Mojtaba Khamenei yang statusnya masih belum sepenuhnya terang benderang bagi publik internasional.

Merespons situasi ini, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Prancis Emmanuel Macron bertemu di Paris guna menggalang kekuatan multinasional. Mereka menekankan bahwa pembukaan selat ini harus bisa dijalankan secara praktis dan bukan sekadar retorika diplomatik.

“Kita semua menuntut pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh, segera, dan tanpa syarat… Kami menolak segala sistem kesepakatan yang pada praktiknya sama dengan upaya memprivatisasi selat tersebut,” ujar Macron dengan nada tegas.

Kanselir Jerman Friedrich Merz juga menyatakan kesiapan negaranya untuk berkontribusi. Namun, Merz memberikan syarat hukum yang kuat.

“Jerman dapat berkontribusi dalam pembersihan ranjau dan kemampuan intelijen… namun kami memerlukan dukungan parlemen serta dasar hukum yang aman seperti resolusi Dewan Keamanan PBB,” jelas Merz.

Baca Juga :  Konflik Memuncak di Iran dan Wilayah Sekitarnya, Pasar Global Geger

Meski Merz mengharapkan keterlibatan AS dalam misi tersebut, Trump dengan gaya khasnya menolak bantuan NATO melalui unggahan media sosial terbarunya.

Reaksi Pasar dan Kehati-hatian Raksasa Pelayaran

Dampak pengumuman ini langsung terasa di lantai bursa. Harga minyak dunia terjun bebas seiring kembalinya harapan normalisasi rantai pasok. Kathleen Brooks, Direktur Riset di XTB, menyebut ini sebagai “perkembangan terbesar sejauh ini selama gencatan senjata.”

Namun, bagi nakhoda di lautan, situasinya tidak sesederhana angka di layar saham. Perusahaan pelayaran raksasa seperti Maersk dan Hapag-Lloyd masih memilih untuk menepi. Mereka masih menghitung risiko ancaman ranjau laut dan prosedur komunikasi dengan otoritas pesisir.

“Keselamatan awak kapal, kapal, dan kargo pelanggan tetap menjadi prioritas kami. Rekomendasi sejauh ini adalah menghindari melintasi Selat Hormuz,” tulis pernyataan resmi Maersk.

Kini, dunia hanya bisa menunggu apakah keterbukaan 10 hari ini akan menjadi jembatan menuju perdamaian permanen, atau sekadar jeda sebelum badai baru kembali menggulung di perairan Hormuz.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com