NARASITODAY.COM, TEL AVIV – Gemuruh mesin perang dan retorika kemenangan, sebuah gelombang protes keras justru datang dari jantung kekuatan militer dan politik Israel sendiri. Para tokoh yang dahulu menjadi penjaga kedaulatan negara itu kini angkat bicara, menyebut kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah membawa Israel menjauh dari cita-cita luhurnya.
Kritik tajam ini muncul di tengah situasi geopolitik yang rapuh, pasca-gencatan senjata singkat dengan Iran dan Lebanon yang baru saja diumumkan di bawah mediasi internasional. Para kritikus menilai, meski militer telah melancarkan serangan besar-besaran, hasil strategis yang didapat justru mengecewakan.
Dua mantan Kepala Staf Militer Israel, Dan Halutz dan Moshe Ya’alon, merilis pernyataan pedas yang menggambarkan kondisi pemerintahan saat ini sebagai sebuah rezim yang terasing dari rakyatnya. Menjelang perayaan kemerdekaan Israel yang ke-78, mereka merasa perlu memberikan peringatan darurat.
“Menjelang peringatan ke-78 kemerdekaan Israel, kami terpaksa mengatakan dengan pahit yaitu Israel telah dibajak oleh sebuah rezim yang memandang sumber daya negara sebagai milik pribadinya sendiri,” tulis keduanya dalam sebuah artikel di media Haaretz, dikutip Jumat (24/4/2026).
Halutz dan Ya’alon menuding Netanyahu dan lingkaran dalamnya telah kehilangan kompas realitas. Mereka menyebut pemerintahan saat ini bertindak seolah-olah negara merupakan aset keluarga.
“Sepenuhnya terlepas dari realitas warganya, bertindak seolah-olah negara ini adalah milik pribadi Netanyahu, istrinya (Sara), dan Miri Regev (Menteri Transportasi),” lanjut tulisan tersebut.
Keduanya kini secara terbuka menyerukan kepada rakyat Israel untuk bersiap menghadapi Pemilihan Umum pada Oktober mendatang sebagai jalan untuk “merebut kembali kendali atas negara ini.”
Kemenangan Militer, Kegagalan Strategis
Nada serupa namun dari sudut pandang yang lebih taktis disuarakan oleh mantan Perdana Menteri Ehud Barak. Meski mengakui bahwa musuh-musuh Israel seperti Hamas, Hizbullah, dan Iran telah menderita pukulan militer yang telak, Barak menilai tujuan esensial dari peperangan tersebut tidak pernah benar-benar tercapai.
“Para musuh mengalami pukulan yang menyakitkan, yang melemahkan mereka semua. Namun, tidak satu pun tujuan perang yang tercapai. Hamas masih berada di Gaza, dan Hizbullah tetap berada di Lebanon,” tegas Barak.
Lebih mengkhawatirkan lagi, Barak menyoroti bagaimana Iran tetap berdiri tegak meski telah dihujani serangan gabungan oleh Israel dan Amerika Serikat sejak akhir Februari lalu. Menurutnya, kegagalan melumpuhkan program nuklir Teheran adalah bukti ketidakberdayaan strategi pemerintah saat ini.
“Rezim di Teheran bertahan dari serangan gabungan Israel-AS, dan ancaman nuklir serta rudal balistik tidak dihilangkan,” tulisnya lagi.
Ketergantungan yang Memalukan pada Washington
Analisis Barak juga menyentuh aspek kedaulatan diplomatik. Ia melihat Israel kini berada dalam posisi yang sangat bergantung pada instruksi dari Gedung Putih, khususnya di bawah pengaruh Presiden Donald Trump yang aktif mendorong gencatan senjata di kawasan.
Ia menyebut posisi Israel saat ini sebagai “negara yang berada di bawah Amerika Serikat, yang memaksakan keputusan operasional dan diplomatik yang menentukan melalui arahan yang keras, dan terkadang memalukan.”
Sejak operasi militer di Lebanon dimulai pada 2 Maret lalu, korban jiwa telah mencapai 2.294 orang dengan jutaan warga mengungsi. Sementara itu, konflik dengan Iran yang meletus sejak 28 Februari telah merenggut lebih dari 3.000 nyawa sebelum akhirnya mencapai gencatan senjata sementara pada 8 April lewat mediasi Pakistan.
Bagi para veteran perang dan politik ini, deretan angka korban dan kerusakan tersebut hanya mengonfirmasi satu hal: sebuah kegagalan strategis yang serius dalam menjaga keseimbangan kekuatan demi masa depan Israel.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













