NARASITODAY.COM, JAKARTA – Lantai bursa dan pasar uang dalam negeri kembali diguncang ketidakpastian. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) baru saja mencatatkan rekor kelam dengan menembus level terburuknya sepanjang sejarah. Fenomena ini bukan sekadar angka di papan kurs, melainkan ancaman nyata yang mulai membayangi kesehatan fiskal negara.
Pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026), rupiah di pasar spot mendarat di level Rp 17.286 per dolar AS. Angka ini mencerminkan pelemahan sebesar 0,61% dibandingkan hari sebelumnya. Bahkan, dalam fluktuasi harian yang mencekam, mata uang Garuda sempat menyentuh psikologis baru di angka Rp 17.300 sebelum akhirnya sedikit terkoreksi.
Efek Domino ke Kantong Negara
Pelemahan ini memicu kekhawatiran karena telah melampaui “pagar” yang dibuat pemerintah. Dalam APBN 2026, asumsi nilai tukar dipatok pada angka Rp 16.500 per dolar AS. Dengan selisih yang kian melebar, beban subsidi dan utang luar negeri berpotensi membengkak.
Secara kalkulasi, setiap pelemahan sebesar Rp 100 dari asumsi dasar dapat menambah defisit anggaran hingga Rp 800 miliar. Jika tren ini menetap, pemerintah harus memutar otak lebih keras untuk menyeimbangkan neraca keuangan di tengah ketidakpastian global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mencoba meredam kepanikan pasar dengan menyebut bahwa badai ini tidak hanya dialami Indonesia.
“Kami pantau saja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak. Penyebabnya kami lihat gejolak global,” ujar Airlangga di Jakarta.
Ia menegaskan bahwa pemerintah memilih untuk tidak bersikap reaktif dan tetap memercayakan stabilitas mata uang kepada otoritas moneter.
Intervensi Total Bank Indonesia
Di balik layar, Bank Indonesia (BI) terus berjaga untuk memastikan rupiah tidak terjun bebas tanpa kendali. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa tekanan hebat ini adalah buah dari meningkatnya tensi geopolitik dunia yang membuat investor cenderung menarik modalnya ke aset aman (safe haven).
Meski rupiah telah terdepresiasi sekitar 3,54% secara tahun berjalan (year-to-date), BI menilai angka tersebut masih dalam koridor tren mata uang regional lainnya. Namun, langkah defensif tetap diperkuat.
“Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tegas Destry.
BI saat ini melakukan aksi “penjagaan” di berbagai lini, mulai dari pasar offshore melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF), intervensi di pasar spot domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Kehadiran BI di pasar diharapkan mampu memberikan efek kejut bagi para spekulan dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Kini, perhatian publik tertuju pada sejauh mana benteng moneter dan fiskal mampu bertahan dari gempuran dolar, agar pelemahan sejarah ini tidak berubah menjadi krisis yang lebih dalam.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














