NARASITODAY.COM, ADAMAWA – Sore yang cerah di komunitas Guyaku, Area Pemerintah Lokal Gombi, seketika berubah menjadi neraka. Sorak-sorai penonton di pinggir lapangan sepak bola berganti dengan jeritan ketakutan dan desing peluru saat kelompok bersenjata menyerbu kerumunan warga pada Minggu (26/04/2026).
Sedikitnya 29 orang dilaporkan tewas dalam serangan yang menyasar para pemuda di wilayah timur laut Nigeria tersebut. Adamawa, negara bagian yang berbatasan langsung dengan Kamerun, kembali menjadi saksi bisu kekejaman kelompok militan yang terus merongrong keamanan Afrika Barat.
Kesaksian dari Balik Rumput Lapangan
Bagi warga setempat, lapangan sepak bola adalah tempat pelarian dari penatnya hidup di tengah krisis. Namun, para pemberontak justru menjadikannya titik pembantaian.
Philip Agabus, seorang penduduk asli yang selamat, menceritakan kengerian yang terjadi saat para penyerang mulai melepaskan tembakan secara membabi buta.
“Serangan terjadi saat warga kami berkumpul di lapangan sepak bola di komunitas Guyaku. Kami diserang oleh pemberontak yang masuk membawa senjata dan mulai menembak secara acak,” ujar Agabus mengenang detik-detik mencekam tersebut.
Kesaksian serupa datang dari Joshua Usman. Ia menyebutkan bahwa mayoritas korban adalah generasi muda yang tengah menikmati pertandingan sore hari. Kelompok penyerang tidak hanya membantai manusia, tetapi juga menghancurkan nafas kehidupan desa tersebut.
“Yang tewas adalah pemuda, termasuk beberapa wanita yang sedang menonton sepak bola. Mereka juga membakar tempat ibadah, rumah-rumah, dan sepeda motor,” kata Usman.
Klaim Kelompok Militan dan Respons Pemerintah
Gubernur Adamawa, Ahmadu Umaru Fintiri, yang turun langsung meninjau lokasi kejadian, mengonfirmasi jumlah korban yang jatuh. Melalui juru bicaranya, Fintiri menegaskan bahwa tragedi ini adalah luka mendalam bagi rakyat Nigeria.
“Gubernur mengonfirmasi bahwa tidak kurang dari 29 orang tewas dalam serangan mematikan di komunitas Guyaku di Area Pemerintah Lokal Gombi,” tulis pernyataan resmi pemerintah pada Senin (27/04/2026).
Meski Fintiri menunjuk Boko Haram sebagai dalang, kejutan datang dari kelompok rival mereka, Islamic State’s West Africa Province (ISWAP). Melalui pernyataan resminya, ISWAP justru mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dengan dalih menyasar target agama tertentu dan membakar hampir 100 sepeda motor warga.
Keamanan Nigeria di Titik Nadir
Serangan ini terjadi di tengah persiapan Nigeria menghadapi pemilihan umum yang tinggal kurang dari setahun lagi. Sejak pemberontakan ekstremis pecah pada 2009, puluhan ribu nyawa telah melayang dan jutaan orang terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka.
Menanggapi situasi yang kian tak terkendali, Gubernur Fintiri berjanji akan melakukan tindakan tegas.
“Aksi ini tidak akan dibiarkan tanpa hukuman. Kami akan segera mengintensifkan operasi keamanan untuk memulihkan perdamaian,” tegas Fintiri.
Saat ini, Nigeria dilaporkan tengah berupaya memperkuat kerja sama teknis dan pelatihan militer dengan Amerika Serikat. Upaya ini dilakukan guna membendung kebangkitan kekerasan yang kini tak hanya menghantam Nigeria, tapi juga mulai merembet ke negara tetangga seperti Niger, Chad, dan Kamerun.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














