Merayakan Sejarah dan Perjuangan di Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026

0
buruh
Ilustrasi Berbagai pekerjaan dan profesi untuk Hari Buruh Internasional.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,CHICAGOJumat, 1 Mei 2026, jutaan buruh di seluruh dunia kembali turun ke jalan. Namun, di balik riuh tuntutan upah layak dan kesejahteraan hari ini, tersembunyi sebuah narasi kelam dari akhir abad ke-19. Hari Buruh Internasional atau May Day bukanlah sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah monumen pengingat atas pengorbanan nyawa demi standarisasi delapan jam kerja.

Sejarah mencatat bahwa embrio pergerakan ini lahir di Amerika Serikat (AS), tepatnya saat Revolusi Industri mencapai puncaknya. Kala itu, pabrik-pabrik menjadi saksi bisu eksploitasi manusia, di mana pria, wanita, hingga anak-anak dipaksa bekerja dalam kondisi buruk hingga meregang nyawa.

Lahir dari Proklamasi Chicago

Titik balik terjadi pada tahun 1884, ketika Federation of Organized Trades and Labor Unions (FOTLU) membuat sebuah deklarasi berani di Chicago. Mereka memproklamasikan bahwa mulai 1 Mei 1886, delapan jam kerja harus menjadi standar sah sehari-hari.

Baca Juga :  NATO Aktifkan Mode Perlawanan Saat Amerika Serikat Mengklaim Rebut Wilayahnya dari Ancaman Eksternal

Tepat pada tanggal yang ditentukan, Chicago memutih. Lebih dari 300.000 pekerja meninggalkan mesin-mesin pabrik mereka dalam aksi mogok massal nasional. Namun, kedamaian itu hanya bertahan sejenak.

Situasi berubah mencekam pada 3 Mei ketika bentrokan pecah di Pabrik McCormick Reaper. Puncaknya, pada 4 Mei di Haymarket Square, sebuah ledakan bom tak dikenal menghantam barisan polisi yang mencoba membubarkan massa. Insiden berdarah ini menewaskan tujuh petugas dan delapan warga sipil, memicu gelombang represi terhadap kelompok aktivis buruh.

Tragedi ini diakhiri dengan persidangan kontroversial yang menjatuhkan vonis mati kepada delapan orang tanpa bukti kuat. Peristiwa inilah yang menjadi dasar mengapa 1 Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan buruh sedunia.

Baca Juga :  Bupati Bogor Dukungan Penuh atas Peluncuran Aplikasi “Jaga Desa” untuk Transparansi Dana Desa

Seruan Radikal yang Mengguncang Sistem

Sesaat sebelum aksi besar tahun 1886 dimulai, atmosfer perjuangan dipanaskan oleh seruan-seruan radikal. Para pekerja diajak untuk mengangkat senjata melawan sistem upah yang dianggap sebagai akar kesengsaraan.

Dikutip dari laman Industrial Workers of the World, seruan tersebut berbunyi:

“Para Pekerja Angkat Senjata! Perang bagi Istana, Damai bagi Pondok, serta Kematian bagi KEMALASAN MEWAH. Sistem upah merupakan penyebab utama dari kesengsaraan dunia… Satu pon DINAMIT lebih baik daripada sekeranjang SURAT SUARA! SUARAKAN TUNTUTAN DELAPAN JAM KERJA dengan senjata di tangan kalian guna menghadapi kawanan anjing pelacak kapitalis.”

Ironi di Tanah Kelahiran

Meskipun dunia merayakan May Day sebagai penghormatan atas peristiwa di Chicago, Amerika Serikat justru menjadi salah satu negara yang tidak mengakui 1 Mei sebagai Hari Buruh nasional. Ada ironi besar di sini; pelopor gerakan dunia justru menjauhkan diri dari sejarah aslinya.

Baca Juga :  Ketua DPRD Rudy Susmanto Minta Jangan Ada Pungli di Objek Wisata

Sejarah mencatat upaya sistematis pemerintah AS untuk memutus ingatan publik. Presiden Grover Cleveland memindahkan Hari Buruh ke bulan September pada tahun 1894 untuk menghindari asosiasi dengan gerakan radikal 1 Mei. Bahkan, di masa Perang Dingin tahun 1958, Presiden Dwight D. Eisenhower mencoba mengubah makna tanggal tersebut menjadi “Hari Hukum”.

Kini, di tahun 2026, semangat 1 Mei tetap membara. Dari Jakarta hingga New York, buruh tetap menyuarakan tuntutan yang sama sejak 140 tahun lalu yaitu dimana kondisi kerja yang aman, upah yang manusiawi, dan perlindungan atas martabat mereka sebagai penggerak roda ekonomi dunia.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com