
NARASITODAY.COM, JAKARTA – Sebuah diskusi krusial mengenai “napas” pembangunan nasional berlangsung pada Senin (27/4/2026). Presiden RI Prabowo Subianto memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, guna membedah ketahanan energi Indonesia yang kini dibayangi mendungnya dinamika geopolitik dunia.
Hampir dua bulan sejak pecahnya ketegangan di Timur Tengah pada 28 Februari 2026, rantai pasok energi global terus berada dalam tekanan. Namun, di tengah kecemasan dunia akan tersendatnya jalur Selat Hormuz, kabar menyejukkan datang dari meja pelaporan Menteri ESDM.
Stok di Atas Batas Minimum
Bahlil memastikan bahwa hingga saat ini, Indonesia masih berdiri tegak di atas fondasi energi yang stabil. Ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM), mulai dari produk solar hingga bensin, diklaim berada dalam kondisi prima.
“Baik dari sisi BBM produk, baik solar maupun bensin. Dari semua aspek, alhamdulillah semuanya di atas standar minimum nasional. Jadi alhamdulillah sudah dua bulan, hampir dua bulan ketika kejadian, geopolitik di Timur Tengah tentang Selat Hormuz, kita masih stabil,” ujar Bahlil saat ditemui di lingkungan Istana, Selasa (28/4/2026).
Tak hanya produk jadi, stok minyak mentah (crude) untuk kebutuhan kilang-kilang nasional juga dilaporkan berada di zona aman, memastikan aktivitas produksi dalam negeri berjalan tanpa kendala berarti.
Misi Memutus Rantai Impor LPG
Dalam laporan ini menyoroti perjuangan panjang Indonesia melepaskan diri dari ketergantungan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Dengan konsumsi mencapai 8,6 juta ton per tahun dan produksi domestik yang hanya mampu menyumbang sekitar 1,7 juta ton, Indonesia masih harus “mengimpor” sisa 7 juta ton dari luar negeri.
Sebagai solusi, pemerintah tengah mematangkan rencana penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai substitusi. Pemanfaatan gas C1 dan C2 yang melimpah di dalam negeri dinilai menjadi senjata ampuh untuk memperkuat kemandirian sektor dapur masyarakat dan industri.
“Sekarang lagi masih dalam pembahasan yang tadi saya laporkan adalah kita membuat CNG. Tapi ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi, dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan,” ungkapnya.
Strategi Tiga Pilar Menghadapi Krisis
Menghadapi ketidakpastian global, pemerintah tidak hanya mengandalkan stok lama, melainkan melakukan diversifikasi besar-besaran. Bahlil menegaskan ada tiga pilar utama yang menjadi strategi pemerintah:
- Optimalisasi Lifting Migas: Memacu produksi dari sumur-sumur dalam negeri.
- Diversifikasi Solar (B50): Mengurangi ketergantungan impor solar melalui mandatori biodiesel 50%.
- Pengembangan Etanol (E20): Mendorong campuran bensin berbasis bioetanol.
Pemerintah juga telah melakukan uji jalan B50 pada sektor otomotif dengan hasil memuaskan. Mesin dilaporkan tetap tangguh, dengan kualitas pelumas yang terjaga sesuai standar pabrikan. Kini, uji coba tersebut diperluas hingga ke sektor perkeretaapian melalui uji jalan pada lokomotif.
Melalui perpaduan antara penjagaan pasokan jangka pendek dan percepatan transisi energi domestik, pemerintah mengirimkan pesan tegas: Indonesia siap menjaga kedaulatannya meski badai geopolitik global belum menunjukkan tanda-taunda akan reda.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com












