NARASITODAY.COM – Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat mendesak aktivitas pembukaan lahan di wilayah Puncak Cisarua lebih diperhatikan. Baik oleh pemerintah provinsi dan Kabupaten Bogor.
Sebab, semakin maraknya pembukaan lahan yang digunakan untuk destinasi wisata di wilayah Puncak Bogor akan berdampak pada daya serap air yang sering memicu bencana banjir bandang dan longsor di wilayah tersebut.
“Kedepan mohon di evaluasi dan dasarnya lebih mana mempertimbangkan dampak kebencanaan nya untuk lebih diperhitungkan,”kata anggota DPRD Jabar Samsul Hidayat saat melakukan rapat komisi IV bersama Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat pada Kamis (9/1/2025).
Samsul Hidayat juga menyoroti keterlibatan perusahaan milik BUMD Jabar yaitu PT Jaswita Lestari Jaya yang saat ini telah membuka lahan yang merupakan zona serap air dari gunung mas puncak.
Belum lagi kata dia, anak perusahaan PT Jaswita itu membuka wisata Bianglala dan Hibisc Fantasy diduga melakukan pelanggaran site plan dan tata ruang zona di wilayah Puncak Bogor.
“Ini kasusnya salah satunya Jaswita di Puncak Bogor kalau masuk di kemendagri atau apa itu sudah masuk 30 persen tata ruang itu bisa dipergunakan dari 100 persen. Akan tetapi kan harus dilihat dulu bahwa kontur disana itu jangankan untuk luas wilayah yang 30 persen. Di gunung mas ini membuat jalan setapak saja untuk olahraga itu dampaknya luar biasa yaitu banjir bandang yang menimpa Kecamatan Cisarua kemarin,”kata dia.
Anggota dewan berasal dari dapil Kabupaten Bogor ini mengaku sangat menyayangkan keterlibatan perusahaan BUMD Jabar merusak lahan di Puncak. Sebab, jangankan 30 persen untuk pembukaan jalan jogging track dibawah 1 persen membuat Kecamatan Cisarua sering mengalami banjir dan longsor.
“Padahal itu hanya digunakan di bawah 1 persen tetapi ini kan 30 persen, hujan kecil saja dampaknya itu rawan longsor,”katanya.
Selain berdampak kerawanan longsor dan banjir kata Samsul, lahan yang saat ini dibuka oleh PT Jaswita tersebut mematikan aktivitas olahraga paralayang yang sebelumnya menjadi tempat persiapan atlet di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) dan SEA Games.
“Kedua itu mematikan aktivitas olahraga dimana sebelumnya kan ada paralayang itu sama Sekali padahal itu suda arena nasional yang digunakan untuk PON dan SEA Games,”ungkapnya.***













