Menggali Singkat Kilau Legenda Gunung Emas di Bogor, Hingga Dimana Pertambangan Emas Pertama di Indonesia?

0
Ilustrasi. Foto dok : net

NARASITODAY.COM – Siapa yang tidak terkesima dengan Kilauan barang berharga berjenis emas, bukan hanya saja harganya yang mahal. Emas pun menjadi daya tarik bagi mayoritas warga dipenjuru dunia untuk memilikinya.

Salah satu babak penting yang layak untuk digali lebih dalam adalah temuan bahan emas pertama kali di tanah air yang memulai perjalanan panjang penambangan emas di Indonesia.

Sejarah jejak tambang emas pertama kali di Indonesia dimulai pada abad ke-19, tepatnya di Sungai Awan, Kalimantan, sekitar tahun 1840-an.

Penemuan ini tak hanya mengubah wajah ekonomi Indonesia, tetapi juga membuka pintu bagi eksplorasi lebih lanjut yang melibatkan pihak asing.

Namun, yang paling tercatat dalam sejarah adalah penemuan Tambang Emas Grasberg di Papua, yang hingga kini menjadi salah satu tambang emas terbesar di dunia.

Meski penemuan emas di Papua baru dilakukan pada tahun 1936 oleh Belanda, kehadiran Grasberg menjadi titik awal dominasi Indonesia dalam sektor tambang emas global.

Awal Mula Penambangan Emas di Indonesia

Penambangan emas pertama kali di Indonesia terjadi lebih dari seribu tahun lalu, bertepatan dengan kedatangan imigran dari Tiongkok. Pada masa itu, masyarakat mulai mengenal teknik penambangan sederhana dengan menggunakan peralatan manual.

Penambangan emas tradisional ini tersebar di berbagai wilayah, meskipun skala operasinya masih terbatas dan dilakukan oleh individu atau kelompok kecil. Namun, meskipun aktivitas ini sudah dimulai sejak lama, hasil penambangannya belum berkembang karena keterbatasan teknologi dan pengelolaan yang sederhana.

Baca Juga :  Buka Hati Pasca-Kegagalan Masa Lalu, Ayu Ting Ting Konfirmasi Kedekatan Spesial dengan Kevin

Legenda Tambang Emas Pongkor Kabupaten Bogor

Dikutip dari laman detik finance.com Wilayah Gunung Pongkor berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat jadi ‘legenda’ tempat penambangan emas di Jawa. Kawasan ini sejak berpuluh tahun lalu jadi saksi maraknya penambangan emas liar, hingga banyak korban berjatuhan disana.

Kawasan pertambangan emas ini dikelola oleh BUMN tambang PT Aneka Tambang Tbk (Antam), yang beroperasi dengan sistem penambangan tertutup atau di bawah tanah.

Antam memproduksi tidak hanya emas melainkan juga feronikel, bauksit, batu bara, perak, alumina, dan jasa pemurnian emas.

Kegiatan tambang emas bawah tanah di Pongkor disebut-sebut yang terbesar se-Jawa, dan sudah hampir mencapai usia lima dekade. Dimulai pada 1974, geologis Antam melakukan kegiatan eksplorasi dan berhasil menemukan base metal.

Selain itu, daerah peninggalan Raja Pajajaran ini juga menyimpan harta karun emas lain diberbagai pegunungan bahkan di perbukitan yang lahannya sudah dipenuhi pemukiman warga.

Salah satunya pada selang beberapa tahun ini. Aktivitas tambang emas yang dikelola secara liar di wilayah ini kembali marak terjadi seperti di wilayah pesisir Barat Gunung Cirangsad dan Timur Kecamatan Tanjungsari.

Baca Juga :  Pesawat Penerjun Payung Jatuh di Missouri AS, 12 Orang Tewas di Hadapan Keluarga

Meski tambang emas liar ini sangat membahayakan. Namun para penambang emas yang disebut ‘gurandil’ rela dan tidak segan bertarung nyawa masuk ke lubang yang hanya berdiameter lebar 1 hingga 2 meter demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya lantaran mungkin tidak ada pekerjaan lain.

Mereka bisanya masuk dalam lubang tersebut hanya berbekal palu dan linggis untuk mengikis batuan disinyalir mengandung logam emas didalamnya.

Lalu seperti apa ciri-ciri batu mengandung emas?

Di himpun dari berbagai sumber geologi pertambangan untuk mengidentifikasi batu yang mengandung emas membutuhkan ketelitian dan pengetahuan tentang ciri-ciri fisiknya. Bukan hanya dari segi warna melainkan dari tekstur pun menjadi salah satu indikator adanya kandungan emas.

Batu yang terlihat seperti emas itu sebenarnya adalah pirite, mineral yang sering disebut ‘emas palsu’ (fake gold). Namun, di balik kilauannya, tersembunyi potensi urat emas asli yang bisa diekstraksi melalui pengolahan lebih lanjut.

Penampakan batu ini dapat dilihat dari hasil pengambilan bahan emas. Berawal dari bongkahan batu berwarna abu-hitam berkilau emas yang menjadi awal mula barang perhiasan yang dijual mahal dipasaran.

Berikut ciri-ciri utama yang dapat membantu Anda mengenali batu yang berpotensi mengandung emas:

Warna dan Kilau

Emas murni memiliki warna kuning khas dengan kilau metalik yang intens. Namun, dalam batuan, emas mungkin tidak selalu terlihat jelas. Perhatikan adanya bintik-bintik atau garis-garis berwarna kuning keemasan yang berkilau di permukaan batuan.

Baca Juga :  Gerakan Tanam Padi di Parung Panjang, Langkah Nyata Pemkab Bogor Tekan Inflasi

Berat

Batuan yang mengandung emas cenderung lebih berat dibandingkan batuan serupa yang tidak mengandung emas. Ini disebabkan oleh densitas emas yang tinggi (19.3 g/cm³).

Tekstur

Perhatikan adanya tekstur yang tidak merata atau “bergelombang” pada permukaan batuan. Emas sering mengisi celah-celah atau retakan dalam batuan, menciptakan pola yang tidak teratur.

Asosiasi Mineral

Emas sering ditemukan bersama mineral lain seperti kuarsa, pirit, atau galena. Kehadiran mineral-mineral ini dapat menjadi petunjuk adanya emas.

Reaksi terhadap Asam

Emas tidak bereaksi dengan asam nitrat. Jika Anda meneteskan sedikit asam nitrat pada bagian yang diduga emas dan tidak ada reaksi, ini bisa menjadi indikasi keberadaan emas.

Pola Urat

Dalam batuan kuarsa, emas sering membentuk pola urat atau garis-garis tipis. Perhatikan adanya garis-garis berwarna kuning keemasan yang memotong batuan.

Penting untuk diingat bahwa tidak semua yang berkilau adalah emas. Mineral seperti pirit (emas palsu) dapat memiliki penampilan yang mirip dengan emas. Oleh karena itu, kombinasi dari beberapa ciri di atas, serta pengujian lebih lanjut, diperlukan untuk memastikan keberadaan emas dalam batuan.***