NARASITODAY.COM – Beberapa mitra pengemudi ojek online (Ojol) di Kabupaten Bogor memberikan berbagai pandangan terkait tuntutan tunjangan hari raya (THR) dan kebijakan pemotongan tarif yang kini menjadi topik hangat di kalangan mereka.
Isu ini mencerminkan dinamika hubungan antara perusahaan penyedia layanan transportasi daring dan mitra-mitranya, yang seringkali dihadapkan pada tantangan dalam menentukan kesejahteraan dan kebijakan yang adil bagi kedua belah pihak.
Dede (30), salah satu pengemudi, menegaskan bahwa ketentuan mengenai hak dan kewajiban mitra sudah tercantum dalam perjanjian kemitraan yang disepakati sejak awal. Ia berpendapat bahwa setiap mitra seharusnya sudah memahami peraturan yang berlaku sebelum bergabung dengan platform tersebut.
“Kalau mau dapat THR, ya kerja pabrik aja, bukan ngarep dari Gojek. Kita ini mitra freelance, bukan karyawan tetap,” kata Dede saat ditemui timetoday.id, Senin (17/2/2025).
Menurutnya, lebih baik para mitra tetap fokus bekerja untuk memperoleh penghasilan daripada menuntut sesuatu yang tidak ada dalam perjanjian.
Pendapat Dede mencerminkan salah satu sisi dalam perdebatan mengenai status hukum pengemudi ojol. Sebagai mitra, mereka tidak memiliki hak yang setara dengan pekerja tetap di perusahaan.
Topik ini telah menjadi bahan diskusi di banyak negara mengenai apakah pengemudi ojol seharusnya diperlakukan sebagai pekerja tetap atau tetap berada dalam status kemitraan.
Sementara itu, Eka (42), mitra pengemudi lainnya, berpendapat bahwa isu yang lebih mendesak untuk diperjuangkan adalah kebijakan pemotongan tarif yang dianggap terlalu tinggi. Ia mengusulkan agar protes difokuskan pada revisi sistem potongan agar lebih menguntungkan pengemudi.
“Gausah THR dulu deh, potongan aja dulu turunin jadi kayak dulu aja itu kita udah merdeka kalau gitu,” ujar Eka.
Eka juga mengingatkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, pemotongan tarif hanya berkisar antara 10-15 persen.
Namun, kebijakan baru kini memberlakukan pemotongan yang lebih besar, yang berimbas pada pendapatan harian pengemudi dan menambah beban ekonomi mereka, terutama dengan tingginya biaya hidup saat ini.
Meski sebagian mitra melakukan aksi mogok sebagai bentuk protes agar perusahaan memenuhi tuntutan mereka, Dede dan Eka memiliki pandangan berbeda mengenai efektivitas aksi tersebut.
Dede berpendapat bahwa aksi demonstrasi yang sering terjadi tidak memberikan solusi yang jelas, sedangkan Eka merasa bahwa tekanan terhadap kebijakan tarif lebih strategis.
Di sisi lain, timetoday.id melaporkan bahwa situasi ojek online di Cibinong tetap kondusif meski ada aksi mogok oleh sejumlah pengemudi.
Banyak mitra yang lebih memilih untuk terus bekerja dan fokus pada penghasilan ketimbang ikut serta dalam aksi protes yang belum tentu membawa perubahan signifikan.***
Reporter : Amelia Azizah/timetoday.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel














