NARASITODAY.COM – Suasana sore yang semula tenang di Desa Limusnunggal, Cileungsi, Kabupaten Bogor, mendadak berubah mencekam. Suara teriakan dan derap langkah kaki pelajar yang berlarian memecah keheningan. Di tengah jalan, bendera berkibar dan sebilah celurit mengancam, menandai pecahnya bentrok antarpelajar sekolah menengah pertama.
Tawuran pelajar itu terjadi pada hari Selasa (20/5), dan meninggalkan jejak kekerasan yang meresahkan warga. Tak tinggal diam, masyarakat sekitar segera bertindak. Mereka membubarkan aksi tersebut sebelum melaporkannya kepada aparat kepolisian.
“Barang bukti tersebut ditemukan pasca aksi tawuran yang terjadi,” jelas Kapolsek Cileungsi, Kompol Edison, dalam keterangannya pada Rabu (21/5/2025).
Dalam penyelidikan awal, Polsek Cileungsi mengamankan sejumlah barang bukti yang membuat bulu kuduk merinding: sebilah celurit dengan panjang hampir satu meter dan sebuah bendera. Celurit itu diduga kuat digunakan dalam bentrokan antar kelompok pelajar.
“Polsek Cileungsi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti berupa bendera, dan senjata tajam jenis celurit dengan panjang kurang lebih dari satu meter, yang diduga digunakan tawuran pelajar SMP,” ungkap Kompol Edison.
Pemandangan itu sungguh kontras dengan citra anak-anak berseragam putih biru yang seharusnya mengisi hari-harinya dengan belajar, bukan berkonflik di jalanan.
Begitu laporan warga diterima, polisi bergerak cepat menuju lokasi kejadian. Namun, ketika petugas tiba, para pelaku tawuran sudah melarikan diri. Kini, penyelidikan mendalam tengah dilakukan guna mengungkap asal sekolah para pelajar yang terlibat dalam aksi tersebut.
“Saat ini tengah melakukan penyelidikan mendalam untuk mengidentifikasi sekolah-sekolah lain yang terlibat dalam aksi tawuran tersebut,” kata Edison.
Salah satu fokus penyelidikan adalah asal-usul bendera yang ditemukan di lokasi kejadian. Tidak menutup kemungkinan bendera tersebut merupakan simbol kelompok yang biasa digunakan dalam tawuran.
“Kami akan melakukan penyelidikan secara menyeluruh ke sekolah-sekolah yang terindikasi terlibat tawuran ini. Kami juga akan menindak tegas, terutama jika terbukti ada pelajar yang kedapatan membawa senjata tajam,” tegasnya.
Tawuran ini menjadi pengingat bahwa kekerasan remaja adalah masalah yang perlu disikapi serius oleh berbagai pihak bukan hanya aparat, tapi juga sekolah dan keluarga. Edison pun mengimbau agar pengawasan terhadap anak-anak ditingkatkan, baik oleh pihak sekolah maupun orang tua di rumah.
“Kami mengimbau pihak sekolah dan orang tua untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak dan siswanya. Sehingga kejadian serupa tak terulang,” tutupnya.***














