NARASITODAY.COM, YAOUNDE – Situasi politik di Kamerun memanas setelah empat orang dilaporkan tewas dalam demonstrasi besar menjelang pengumuman hasil pemilihan presiden.
Aksi protes berlangsung di sejumlah kota, termasuk ibu kota Yaoundé dan pusat perdagangan Douala, di tengah tuduhan kecurangan yang melibatkan Presiden petahana Paul Biya.
Menurut pernyataan dari tim kampanye oposisi, dua korban jiwa berasal dari Douala, akibat tembakan saat aparat mencoba membubarkan massa pada Minggu (26/10/2025). Ratusan pendukung calon presiden oposisi Issa Tchiroma turun ke jalan, memblokir akses, membakar ban, dan merusak kendaraan milik kepolisian. Aparat keamanan merespons dengan menyemprotkan gas air mata dan menggunakan meriam air untuk mengendalikan kerusuhan.
“Kami ingin Tchiroma, kami ingin Tchiroma!” teriak para demonstran di kawasan New Bell, Douala, seperti dikutip dari Al Jazeera. Mereka menuduh pemerintah berusaha memanipulasi hasil pemilu yang telah digelar pada 12 Oktober lalu.
Data sementara yang dilaporkan oleh media lokal menunjukkan bahwa Paul Biya, yang kini berusia 92 tahun, berada di posisi unggul untuk meraih masa jabatan kedelapan. Namun, pihak oposisi mengklaim bahwa mereka memenangkan pemilu berdasarkan hasil penghitungan internal. “Kami memiliki bukti bahwa rakyat memilih perubahan,” ujar seorang juru bicara oposisi, dikutip dari Reuters.
Jurnalis lokal Blaise Eyong menyoroti peran generasi muda dalam gelombang protes tersebut. “Anda benar-benar dapat melihat frustrasi dan kemarahan ketika berbicara dengan kaum muda,” katanya. “Banyak dari mereka menganggur dan merasa masa depan mereka dirampas oleh sistem yang tidak adil.”
Eyong juga menyebutkan bahwa akses internet terganggu secara nasional, yang diduga sebagai langkah pemerintah untuk membatasi arus informasi. “Namun hal itu tidak menghentikan kaum muda untuk bersatu,” ujarnya.
Pemerintah Kamerun membantah tuduhan kecurangan dan meminta masyarakat untuk menunggu hasil resmi yang dijadwalkan keluar pada hari Senin. Menteri Dalam Negeri Paul Atanga Nji menyatakan bahwa penangkapan sejumlah aktivis dan tokoh politik dilakukan guna mencegah “gerakan pemberontakan.”
Paul Biya, yang telah memimpin negara sejak 1982 dan dikenal sebagai salah satu kepala negara tertua di dunia yang masih aktif menjabat, berpotensi memperpanjang masa kekuasaannya hingga mendekati usia 100 tahun jika kembali terpilih.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














