
NARASITODAY.COM, JAKARTA – Hubungan antara China dan Arab Saudi semakin erat di berbagai sektor, menandai fase baru dalam lanskap geopolitik Timur Tengah. Langkah ini mencerminkan upaya Beijing untuk memperluas pengaruhnya dan menjalin kedekatan dengan mitra tradisional Amerika Serikat.
Wakil Presiden China Han Zheng bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Riyadh pada Rabu (29/10/2025), bertepatan dengan berakhirnya latihan militer gabungan kedua negara di Pangkalan Angkatan Laut King Abdulaziz, Jubail. Pertemuan tersebut menjadi simbol meningkatnya kolaborasi ekonomi, keamanan, dan diplomatik antara kedua negara.
Menurut laporan dari Saudi Press Agency, pertemuan itu dihadiri oleh pejabat tinggi Arab Saudi dari sektor energi, keamanan, luar negeri, perdagangan, dan investasi. Han menyampaikan bahwa China berkomitmen untuk memperkuat pertukaran dan memperluas kerja sama dengan Arab Saudi, termasuk melalui forum multilateral seperti PBB dan G20.
Han juga menyoroti peran China dalam menjaga stabilitas kawasan, khususnya terkait hubungan dengan Iran dan konflik antara Israel dan Hamas, sebagaimana dilaporkan oleh China News Service.
Selain diplomasi tingkat tinggi, kedua negara baru saja menyelesaikan latihan militer bersama bertajuk Blue Sword-2025 yang berlangsung selama dua pekan di bulan Oktober. Latihan ini mencakup operasi kontra-terorisme, penyelamatan laut, anti-pembajakan, dan latihan tembak taktis, menurut pernyataan dari kementerian pertahanan masing-masing.
Latihan tersebut menunjukkan semakin eratnya hubungan pertahanan antara Riyadh dan Beijing kerja sama yang tergolong baru dibandingkan dengan sejarah panjang kemitraan Arab Saudi dan Amerika Serikat.
Para analis menilai bahwa keterlibatan China yang semakin dalam di Timur Tengah dan Afrika Utara berpotensi menggeser dominasi tradisional Washington di kawasan tersebut.
Langkah Arab Saudi memperluas kemitraan strategisnya terjadi di tengah hubungan dengan AS yang mulai menunjukkan ketegangan. Presiden AS Donald Trump diketahui memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, dan menjadikan Arab Saudi sebagai salah satu tujuan utama dalam kunjungan luar negeri di awal masa jabatan keduanya.
Dalam kunjungan tersebut, Riyadh menandatangani kesepakatan pertahanan senilai US$142 miliar dengan AS. Namun, Arab Saudi juga mulai membuka jalur kerja sama dengan mitra nontradisional seperti China dan Pakistan.
Baru-baru ini, Riyadh menandatangani perjanjian pertahanan besar dengan Pakistan, yang dikenal sebagai sekutu dekat Beijing.
Zineb Riboua, peneliti dari Hudson Institute’s Center for Peace and Security in the Middle East, mengingatkan bahwa teknologi China berpotensi mengancam infrastruktur informasi dan komunikasi Arab Saudi, yang bisa menyulitkan kerja sama intelijen dan keberadaan pangkalan militer AS di wilayah tersebut.
Sementara itu, John Calabrese dari Middle East Institute (MEI) menilai bahwa “meningkatnya keraguan Riyadh terhadap perlindungan AS, ditambah hubungan dekat Beijing dengan Pakistan, dapat membuka peluang bagi China untuk lebih proaktif dalam urusan keamanan Teluk dan nuklir.”
Ia menambahkan, “Skenario semacam ini bisa memperluas pengaruh Beijing dan memunculkan rivalitas baru antara China dan AS dalam urusan nuklir Timur Tengah,” sebagaimana dilansir Newsweek.
Ke depan, China diperkirakan akan terus memperluas kehadirannya di kawasan, tidak hanya dalam bidang pertahanan, tetapi juga dalam sektor teknologi industri dan kerja sama nuklir sipil. Perkembangan ini berpotensi meningkatkan tekanan bagi Washington untuk kembali memperkuat keterlibatannya di Timur Tengah demi mempertahankan pengaruhnya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com












