NARASITODAY.COM – Memamerkan hubungan di media sosial atau yang dikenal dengan istilah “relationship flexing” menjadi tren banyak pasangan saat ini. Meski terlihat menyenangkan dan memberi kesan kebahagiaan, kebiasaan ini ternyata menyimpan risiko psikologis yang perlu diwaspadai. Berikut lima bahaya psikologis utama dari memamerkan hubungan di media sosial yang dapat membuat kamu dan pasangan jadi mudah cemas dan tidak bahagia.
1. Meningkatkan Rasa Tidak Cukup
Melihat pasangan lain yang tampak selalu bahagia dan sempurna di media sosial dapat memicu perasaan bahwa hubungan sendiri kurang memadai. Hal ini sering menyebabkan rasa tidak berharga dan cemas karena membandingkan realitas hubungan sendiri dengan gambaran ideal yang tidak selalu nyata.​
2. Menumbuhkan Rasa Cemburu dan Ketidakpuasan
Memamerkan hubungan bisa menimbulkan rasa iri dan cemburu, baik bagi pelaku maupun pengamatan orang lain. Ketidakpuasan terhadap hubungan sendiri juga bisa meningkat karena terlalu fokus pada penampilan luar dan pengakuan dari orang lain.​
3. Memicu Kecemasan Sosial dan Tekanan untuk Terus Tampil Sempurna
Pelaku flexing sering kali merasa tertekan untuk menjaga citra yang telah dibangun di media sosial, yang menyebabkan kecemasan dan stres yang berkelanjutan. Hambatan ini juga bisa membuat pasangan kehilangan keaslian dan kejujuran dalam hubungan.​
4. Ketergantungan pada Validasi Eksternal
Mendapatkan pujian dan like dari orang lain dapat membuat seseorang terlalu bergantung pada validasi eksternal untuk merasa bahagia dalam hubungan. Ketika pengakuan itu tidak seperti yang diharapkan, bisa muncul kekecewaan dan penurunan harga diri.​
5. Meningkatkan Ekspektasi yang Tidak Realistis
Terbiasa melihat hubungan orang lain dengan standar tinggi dan tanpa masalah membuat seseorang memiliki ekspektasi tidak realistis terhadap hubungan mereka sendiri. Hal ini pada akhirnya dapat membuat hubungan terasa kurang memuaskan dan penuh kekecewaan.​
Memamerkan hubungan memang menjadi cara untuk menunjukkan kebahagiaan, tapi jika berlebihan dan tidak diimbangi dengan kedewasaan emosional, hal ini justru bisa merusak kualitas hubungan dan kesehatan mental. Menjaga keaslian dan fokus pada kualitas hubungan yang sesungguhnya jauh lebih penting daripada sekadar konten media sosial.
Ingatlah, kebahagiaan yang sejati tidak harus diumbar, tetapi dirasakan dengan tulus di kehidupan nyata.***
Editor : Alysa
Sumber : liputan6.com














