Hindari Genangan Maut! 5 Strategi Kesehatan Booming Saat Banjir

0
banjir
Ilustrasi raung tanmu terendam banjir. Foto : Istock

NARASITODAY.COM – Memasuki musim hujan 2025, sejumlah wilayah di Indonesia kembali dilanda banjir dengan ketinggian bervariasi. Tak hanya menutup akses jalan dan merusak hunian, banjir juga memicu berbagai ancaman kesehatan yang kerap luput dari perhatian masyarakat. Data dari sejumlah dinas kesehatan daerah menunjukkan lonjakan kasus leptospirosis, diare, infeksi kulit, hingga DBD setiap kali genangan air meluas.

Situasi ini akhirnya memunculkan lima strategi kesehatan yang tengah booming dan banyak dibagikan di media sosial karena terbukti efektif melindungi keluarga dari risiko penyakit saat banjir.

Berikut laporan lengkapnya:

1. Wajib Pakai Sepatu dan Sarung Tangan Anti-Air Saat Terjang Genangan

Tren “APD banjir” kini ramai di e-commerce dan menjadi salah satu produk terlaris di awal musim hujan. Tenaga kesehatan menyebut perlindungan kaki dan tangan sangat penting, karena air banjir sering terkontaminasi urine hewan seperti tikus, sumber utama bakteri leptospira penyebab leptospirosis.

Baca Juga :  BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat di Wilayah Selatan Indonesia Meski Cuaca Cerah Mendominasi

Menggunakan sepatu boot, sarung tangan karet, atau pelindung kaki plastik bisa mengurangi risiko infeksi yang dapat berujung fatal jika tidak segera ditangani.

2. Kebiasaan Cuci Tangan & Kaki dengan Sabun Antibakteri Melejit

Setelah terpapar air banjir, banyak warga mulai rutin melakukan “ritual pembersihan” memakai sabun antibakteri. Ini bukan sekadar tren, tetapi anjuran medis untuk mencegah penyakit kulit, diare, dan infeksi saluran pencernaan.

Bahkan beberapa RT/RW sudah menyediakan tempat cuci tangan dan kaki darurat di dekat posko untuk memastikan warga tetap higienis meski tinggal di pengungsian.

3. Air Minum Wajib Direbus Dua Kali atau Gunakan Filter Portable

Selama banjir, kualitas air bersih sangat sulit dijamin. Banyak warga mengeluhkan air keruh, berbau, bahkan bercampur lumpur. Hal ini mendorong munculnya kebiasaan baru: memasak air hingga dua kali didihkan atau memakai filter portable yang populer di kalangan pendaki gunung.

Baca Juga :  Evakuasi Mobil Terseret Arus Warnai Banjir di Kabupaten Bogor

Langkah ini disebut efektif mengurangi risiko diare akut, kolera, hingga hepatitis A.

4. Obat Anti-Gatal, Salep Luka, dan Antiseptik Jadi Barang Wajib di Rumah

Minimarket hingga apotek mencatat peningkatan permintaan produk perawatan kulit dan antiseptik hingga 35% di kawasan rawan banjir. Banyak warga kini memahami bahwa luka kecil sekalipun bisa berbahaya jika terkena air banjir.

Tenaga medis mengimbau agar setiap rumah memiliki:

  • Povidone iodine
  • Plester / perban
  • Salep antibakteri
  • Obat anti-gatal atau antihistamin

Perlengkapan sederhana ini bisa mencegah luka terinfeksi dan berkembang menjadi infeksi berat.

5. Fogging Mandiri dan Eliminasi Nyamuk Jadi Gerakan Komunal

Baca Juga :  Dampak 'Brain Rot': Mengapa Penting untuk Mengatur Waktu di Media Sosial dan Mencari Stimulasi Positif

Banjir sering meninggalkan genangan yang menjadi tempat nyamuk berkembang biak. Karena itu, sejumlah komunitas mulai melakukan fogging mandiri dan kerja bakti membersihkan selokan begitu air surut.

Tren #GerakanAntiDBD juga ramai di media sosial, mendorong warga untuk:

  • Mengeringkan bak mandi
  • Menutup tempat penampungan air
  • Menabur larvasida
  • Menghindari jemuran yang menghambat aliran air

Langkah ini terbukti menurunkan risiko demam berdarah secara signifikan.

Kewaspadaan Adalah Kunci

Meski banjir tidak dapat selalu dihindari, kesehatan tetap bisa dijaga dengan langkah preventif yang tepat. Para ahli mengingatkan bahwa penyakit pasca-banjir sering kali muncul terlambat karena masyarakat lebih fokus menyelamatkan barang dan memperbaiki rumah.

Dengan lima strategi yang sedang booming ini, masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi kondisi ekstrem dan menurunkan risiko kesehatan yang dapat berakibat fatal.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber