Kemendikdasmen Fokus Rehabilitasi Sekolah dengan Dana Prioritas Tahun 2026

0
Kemendikdasmen
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memberikan kewenangan penuh kepada pemerintah daerah di Aceh, Sumut, dan Sumbar untuk mengatur pelaksanaan UAS di tengah banjir dan longsor.Foto : dok. Kemendikdasmen

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberikan kewenangan penuh kepada pemerintah daerah untuk mengatur pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) atau Penilaian Akhir Semester (PAS) di wilayah-wilayah yang terdampak parah oleh banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar). Keputusan ini diambil untuk menjamin keselamatan dan keberlanjutan proses belajar di tengah situasi darurat.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya mitigasi untuk memastikan hak anak atas pendidikan tetap terpenuhi, meskipun infrastruktur sekolah mengalami kerusakan dan banyak warga masih berada di pengungsian.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa tidak ada penundaan ujian yang bersifat seragam. Prinsip utama yang ditekankan adalah keselamatan dan keberlanjutan proses belajar, yang kondisinya sangat bervariasi di setiap lokasi.

Baca Juga :  Bupati Bogor Gerakan Hijaukan Bumi, Birukan Langit Melalui Penanaman Pohon dan IKA 5KMA Run 2025

“Tidak ada arahan penundaan yang seragam. Dinas pendidikan provinsi maupun kabupaten/kota memiliki kewenangan penuh karena mereka paling memahami kesiapan sekolah dan kondisi warga belajar,” jelas Mendidkasmen Abdul Mu’ti melalui keterangannya, ditulis Minggu (7/12/2025).

Mu’ti menambahkan bahwa hasil kunjungan ke lapangan menunjukkan kondisi yang unik di setiap sekolah, membuat keputusan terpusat menjadi tidak efektif.

“Kami memahami bahwa situasi ini tidak diinginkan. Karena setiap daerah memiliki kondisi unik, pelaksanaan pembelajaran dan ujian akhir semester kami serahkan kepada dinas pendidikan provinsi maupun kabupaten/kota yang lebih memahami situasi lapangan,” ucapnya.

Baca Juga :  Garuda di Dadaku dalam Format Animasi: Apa yang Membuatnya Berbeda?

Kemendikdasmen menyarankan agar sekolah-sekolah di wilayah darurat menerapkan kombinasi metode belajar dalam jaringan (daring/online), luar jaringan (luring/offline), serta memanfaatkan tenda sekolah darurat sebagai ruang kelas sementara.

Untuk sekolah yang tidak mengalami kerusakan total seperti kasus SMAN 1 Batang di mana 15 dari 21 ruang kelas masih bisa digunakan sekolah diarahkan untuk mengatur jam belajar secara bergiliran antara sesi pagi dan siang untuk mengakomodasi keterbatasan ruang.

Sementara itu, bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat, Kemendikdasmen telah menyiapkan 25 tenda darurat yang akan didistribusikan segera. Secara total, per 4 Desember 2025, kementerian telah menyalurkan 74 tenda sekolah darurat dan 10.000 paket perlengkapan sekolah ke wilayah terdampak, dengan rencana penambahan bantuan selanjutnya. Sejumlah sekolah terpaksa diliburkan total demi keselamatan.

Baca Juga :  Mengidentifikasi 5 Penyebab Quarter Life Crisis agar Anda Bisa Melangkah Maju dengan Tenang

Selain penyediaan sarana belajar darurat, Kemendikdasmen juga menyalurkan bantuan finansial.

Pada bantuan tahap awal, disiapkan dana Rp10 juta hingga Rp25 juta per sekolah, disesuaikan dengan tingkat kerusakan yang dialami. Data kerusakan yang mendetail saat ini sedang dihimpun bersama dinas pendidikan daerah untuk menjadi dasar prioritas rehabilitasi yang akan dilaksanakan pada tahun anggaran 2026.

Secara keseluruhan, Kemendikdasmen telah mengalokasikan bantuan operasional tanggap darurat senilai Rp6,4 miliar. Sebagai wujud kepedulian mendalam, kementerian juga memberikan santunan senilai Rp293 juta bagi murid dan guru yang meninggal dunia atau mengalami luka parah akibat bencana.***

Sumber : detik.com