FIFA Diduga Mengubah Piala Dunia Menjadi Ajang Korporat dengan Harga Tiket Melonjak Drastis

0
penalti
Ilustrasi kantor FIFA. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Raksasa sepak bola dunia, FIFA, berada di bawah tekanan besar setelah sejumlah organisasi suporter terkemuka menuntut segera dihentikannya penjualan tiket Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Desakan ini muncul menyusul kenaikan harga tiket yang dinilai “tidak masuk akal,” dengan harga kategori premium untuk final mencapai hampir US$9.000.

Kelompok Football Supporters Europe (FSE) dalam pernyataan keras pada Kamis menyebut struktur harga baru yang diterapkan FIFA sebagai bentuk “pemerasan”. Harga tiket, berdasarkan daftar resmi yang dibagikan oleh federasi sepak bola nasional, menunjukkan kenaikan hingga tujuh kali lipat dibandingkan Piala Dunia 2022 di Qatar.

FSE menilai kebijakan harga ini merupakan “pengkhianatan monumental” terhadap tradisi turnamen dan mendesak FIFA untuk segera berkonsultasi sebelum melanjutkan penjualan.

Baca Juga :  Optimisme Tinggi Kluivert: Target Empat Poin dari Duel Lawan Australia dan Bahrain di Kualifikasi Piala Dunia 2026

Kenaikan harga ini berdampak nyata pada akses suporter fanatik. Berdasarkan daftar harga yang dirilis federasi sepak bola Jerman, Inggris, dan Kroasia, suporter yang ingin menyaksikan seluruh pertandingan (dari fase grup hingga final) diperkirakan harus merogoh kocek sedikitnya US$6.900 melalui jalur resmi.

Puncaknya, untuk pertandingan final pada 19 Juli di MetLife Stadium, New York, tiket premium dipatok US$8.680. Angka ini jauh di atas harga sekitar US$1.600 untuk kategori setara pada turnamen di Qatar 2022.

Direktur Eksekutif FSE, Ronan Evain, mengungkapkan keterkejutannya. Ia memperingatkan bahwa harga tiket final yang mendekati US$4.000 sudah terlalu mahal dan dapat menghilangkan atmosfer khas turnamen karena suporter fanatik akan tersingkir secara finansial.

“Untuk harga yang dipasang FIFA, kami cukup terkejut,” ujar Evain. Ia menambahkan bahwa “semua atmosfer itu tidak akan terjadi” jika harga tetap seperti sekarang.

Baca Juga :  Thailand Pastikan MotoGP di Buriram Berlanjut hingga 2031

Kontroversi harga tiket muncul bersamaan dengan kritik tajam lainnya yang menimpa FIFA. Organisasi HAM FairSquare pada Selasa mengajukan keluhan resmi ke Komite Etik FIFA. Keluhan tersebut menuding Presiden FIFA Gianni Infantino telah melanggar prinsip netralitas politik setelah memuji Presiden AS Donald Trump dan memberikan penghargaan perdamaian perdana kepada Trump sebuah langkah yang dinilai tidak sesuai dengan kepentingan komunitas sepak bola global.

Selain itu, skema harga tiket yang diterapkan FIFA juga dinilai tidak transparan. FIFA menerapkan harga variatif untuk laga fase grup berdasarkan tingkat “daya tarik pertandingan” tanpa penjelasan metodologi yang jelas. Contohnya, laga pembuka Inggris melawan Kroasia dikenakan harga sekitar US$523, sementara pertandingan setara lainnya memiliki harga yang lebih rendah, memunculkan kritik tentang sistem dua tingkat yang tidak adil.

Baca Juga :  Anti Boncos! 5 Tips Jitu Mendapatkan Tiket Kereta Api Murah untuk Mudik Lebaran

Bagi banyak pihak, kenaikan harga ini menyimpang jauh dari janji FIFA tahun 2018 yang memproyeksikan harga tiket fase grup mulai dari US$21. FIFA kini bahkan menghapus kategori tiket termurah dari alokasi suporter.

Penulis sepak bola Inggris, Henry Winter, mengingatkan bahwa mengabaikan suporter yang menciptakan atmosfer stadion dapat mengubah Piala Dunia menjadi “Corporate Games” yang berisiko membuat stadion kosong dan suasana hambar sebuah risiko besar bagi para penyiar yang telah membayar mahal.

Jurnalis sepak bola Afrika, Gary Al-Smith, menutup kritik dengan menegaskan bahwa bagi suporter dari luar Amerika Utara, beban biaya termasuk perjalanan, akomodasi, dan konsumsi akan menjadikan Piala Dunia 2026 “salah satu yang paling mahal bagi suporter”.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber