NARASITODAY.COM, JAKARTA – Lonjakan mobilitas masyarakat yang diprediksi terjadi saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 dipastikan akan kembali menguji kapasitas infrastruktur transportasi nasional. Pemerintah telah memetakan secara detail simpul-simpul utama yang berpotensi mengalami kepadatan ekstrem, mencakup udara, darat, laut, hingga penyeberangan.
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengungkapkan fokus pengamanan dan pengaturan lalu lintas penumpang diarahkan ke delapan lokasi strategis.
“Simpul transportasi terpadat nasional pada saat libur Nataru 2025/2026 adalah Stasiun Pasar Senen, Stasiun Yogyakarta, Bandara Soekarno-Hatta, Terminal Kampung Rambutan, Terminal Arjosari Malang, Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, dan penyeberangan Merak-Bakauheni,” katanya dalam sidang Kabinet Paripurna, Senin (15/12/2025).
Mengantisipasi tingginya pergerakan yang didorong oleh tren liburan panjang akhir tahun Kementerian Perhubungan memastikan kesiapan sarana dan prasarana lintas moda di seluruh Indonesia. Penyiapan armada secara masif ini bertujuan agar kapasitas angkut tetap terjaga dan penumpukan ekstrem dapat dihindari di satu moda tertentu.
Koordinasi intensif dengan operator transportasi dan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam upaya memastikan layanan tetap optimal. Menhub Dudy merincikan jumlah armada yang disiagakan secara nasional.
“Untuk transportasi darat, kami menyiapkan 31.433 bus; transportasi laut 711 kapal; transportasi kereta api 2.670 kereta api; transportasi udara 368 pesawat; transportasi penyeberangan 253 kapal penyeberangan,” ujar Dudy.
Pemerintah juga menyoroti pola perjalanan masyarakat, di mana preferensi moda sangat memengaruhi kepadatan di jalan raya dan simpul darat. Data survei menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyesuaikan rekayasa jalan, pengaturan lalu lintas, hingga pembatasan operasional di titik tertentu.
“Moda transportasi yang paling banyak dipilih masyarakat, dengan 51,12 juta orang, atau 42,78% dari total responden, memilih menggunakan mobil pribadi, diikuti oleh moda transportasi lainnya,” sebut Dudy.
Selain lokasi dan moda, waktu puncak pergerakan juga telah dipetakan sebagai acuan agar masyarakat dapat mengatur jadwal perjalanan mereka. Lonjakan tertinggi diprediksi akan terjadi pada dua momentum utama.
“Puncak akan terjadi pada Rabu, 24 Desember 2025, untuk arus keberangkatan dan Jumat, 2 Januari 2026, untuk arus balik atau kepulangan,” sebut Dudy.
Pemerintah mengimbau agar pemudik tetap memantau informasi resmi mengenai kondisi lalu lintas dan senantiasa mengutamakan aspek keselamatan selama perjalanan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














