Pemerintah Maroko Buka Penyidikan Terkait Kerusakan Parah Akibat Banjir di Safi

0
banjir
Ilustrasi banjir bandang. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, MAROKOBanjir bandang menerjang kota pesisir Safi, Maroko, dan menewaskan sedikitnya 37 orang, menjadikannya salah satu bencana banjir paling mematikan yang melanda negara tersebut dalam lebih dari satu dekade. Hingga berita ini diturunkan, otoritas setempat menyatakan operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung di tengah peringatan cuaca buruk lanjutan.

Banjir yang terjadi pada Minggu (14/12/2025) di Safi, sekitar 300 kilometer selatan ibu kota Rabat, disebut sebagai yang paling mematikan dalam kurun waktu setidaknya 10 tahun terakhir, meskipun Maroko dikenal kerap menghadapi cuaca ekstrem di tengah kekeringan berkepanjangan.

Arus air bercampur lumpur menyapu jalan-jalan kota, menyeret mobil, tempat sampah, dan berbagai puing dari pusat kota hingga kawasan permukiman.

Badan meteorologi nasional, General Directorate of Meteorology (DGM), pada Senin (15/12/2025) memperingatkan bahwa badai petir masih berpotensi terjadi selama tiga hari ke depan di sejumlah wilayah, termasuk Safi. Peringatan tersebut dikeluarkan saat warga dan petugas berjibaku membersihkan sisa-sisa banjir.

Baca Juga :  Banjir Terjang Rumah Parto Patrio, Akses Jalan Terputus Meski Rumah Aman

Menurut data terbaru dari pejabat lokal, tujuh orang yang selamat masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Mohammed V di Safi, dengan dua di antaranya berada dalam kondisi kritis dan dirawat di unit perawatan intensif. Aktivitas sekolah di kota tersebut ditutup setidaknya selama tiga hari ke depan karena jalan-jalan dipenuhi lumpur dan puing.

PM Aziz Akhannouch menjelaskan di hadapan parlemen bahwa intensitas hujan yang tinggi dalam waktu singkat menjadi penyebab utama tragedi ini.

“Sebanyak 37 milimeter hujan turun dalam periode yang singkat dan menghantam distrik bersejarah Bab Chabaa (di Safi), yang dilintasi oleh sungai, menyebabkan kematian banyak pedagang dan pekerja,” kata PM Akhannouch.

Dampak ekonomi terasa luas, khususnya di pusat kota bersejarah Safi, di mana setidaknya 70 rumah dan tempat usaha terendam banjir. Abdelkader Mezraoui (55), seorang pemilik toko, mengatakan aktivitas perdagangan nyaris lumpuh.

Baca Juga :  BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Tiga Hari ke Depan

“Pemilik toko perhiasan kehilangan seluruh stok mereka… begitu juga pemilik toko pakaian,” ujarnya, seraya mendesak pemerintah memberikan kompensasi agar usaha-usaha tersebut bisa diselamatkan.

Kota Safi, yang dikenal sebagai pusat kerajinan tembikar terakota, mengalami kerusakan besar di sektor ini. Setelah air surut, jalanan dipenuhi pecahan mangkuk dan tajine yang hancur.

Kantor kejaksaan Maroko mengumumkan telah membuka penyelidikan untuk menentukan apakah ada pihak yang bertanggung jawab atas besarnya dampak kerusakan akibat banjir tersebut, demikian dilaporkan kantor berita resmi MAP.

Kesaksian warga menggambarkan kepanikan saat air bah datang secara tiba-tiba. Warga bernama Hanane Nasreddine, seorang ibu enam anak, menceritakan kengerian yang mereka alami.

“Air itu benar-benar menenggelamkan kami. Kami tidak bisa tidur semalaman. Kami kehilangan segalanya, bahkan buku pelajaran anak-anak saya,” ujarnya kepada AFP.

Warga lain, Nezha El Meghouari, mengatakan ia hanya memiliki waktu beberapa saat untuk menyelamatkan diri dari rumahnya.

Baca Juga :  Petani Sukajaya Panen 40 Ton Bawang Merah, Minta Pemkab Bogor Perbaiki Jalan Usaha Tani

“Saya kehilangan semua pakaian. Hanya tetangga yang memberi saya baju untuk menutup tubuh. Saya tidak punya apa-apa lagi. Saya kehilangan segalanya,” katanya.

Seorang petugas penyelamat, Azzedine Kattane, mengatakan kepada AFP bahwa tragedi ini meninggalkan “dampak psikologis yang kuat” bagi masyarakat, mengingat besarnya jumlah korban.

Bencana ini terjadi di tengah kondisi Maroko yang tengah menghadapi kekeringan parah selama tujuh tahun berturut-turut. Para ahli mengaitkan intensitas badai yang semakin tinggi dengan perubahan iklim. Atmosfer yang lebih hangat mampu menahan lebih banyak uap air, dan suhu laut yang meningkat dapat memperkuat sistem cuaca ekstrem.

Tragedi di Safi kembali menegaskan kerentanan kawasan tersebut terhadap cuaca ekstrem yang semakin sering dan mematikan, mengingatkan pada banjir bandang mematikan sebelumnya, termasuk pada tahun 1995 dan 2002.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com