
NARASITODAY.COM, BEIJING – Di tengah gedung-gedung pencakar langit Shanghai yang biasanya menjadi simbol ambisi sektor swasta, Coral Yang (22) kini harus mengubur mimpinya bekerja di agensi pemasaran. Setelah berbulan-bulan berjuang dan mendapati tawaran kerjanya dibatalkan karena efisiensi perusahaan, lulusan universitas ternama ini memutuskan untuk berbalik arah: mengejar kursi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
“Tidak banyak lowongan di luar sana. Sangat menyakitkan kehilangan tawaran kerja setelah berbulan-bulan mencari, tetapi ini menunjukkan betapa tidak stabilnya sektor swasta saat ini,” ujar Coral Yang getir.
Kisah Coral adalah potret dari jutaan pemuda terdidik di China yang kini berbondong-bondong memburu status “mangkuk nasi besi” (iron rice bowls). Istilah lokal ini merujuk pada stabilitas dan jaminan kerja seumur hidup di sektor publik, sebuah kemewahan yang kini sulit ditemukan di sektor swasta yang tengah dihantam gelombang PHK dan pengetatan regulasi.
Laporan CNBC International pada Rabu (18/12/2024) mencatat rekor bersejarah. Sebanyak 3,7 juta pelamar di seluruh negeri mengikuti ujian tahunan PNS. Namun, gerbang menuju stabilitas itu sangat sempit. Hanya tersedia 38.100 posisi tingkat awal untuk tahun depan, yang berarti satu kursi diperebutkan oleh sekitar 100 orang.
Kondisi ini dipicu oleh angka pengangguran kaum muda (usia 16-24 tahun) di perkotaan China yang bertahan di atas 17% sejak Juli lalu angka yang jauh melampaui Amerika Serikat yang berada di kisaran 10%.
Data dari platform rekrutmen Zhilian Zhaopin mempertegas pergeseran drastis ini:
- Tahun 2024: 63% mahasiswa memilih sektor publik sebagai pilihan utama (naik dari 42% pada 2020).
- Minat Sektor Swasta: Merosot tajam menjadi 12,5% (turun dari 25,1% pada 2020).
Bukan hanya di kota besar, fenomena ini merambah hingga ke pelosok. Di wilayah pedesaan tertentu, tekanan fiskal akibat krisis properti membuat lowongan kerja semakin langka. Bahkan, tercatat satu posisi PNS bisa diperebutkan oleh hingga 6.470 pelamar.
Menariknya, minat terhadap pendidikan pascasarjana justru meredup. Jumlah kandidat ujian masuk pascasarjana turun menjadi 3,4 juta dari puncaknya 4,74 juta pada 2023. Para pemuda tampaknya mulai skeptis bahwa gelar tinggi mampu menjadi jaminan di pasar kerja yang sedang lesu; mereka lebih memilih langsung mengadu nasib di ujian birokrasi.
Meski sektor publik menjadi pelampung penyelamat bagi para pencari kerja, para ekonom memberikan peringatan keras. Penumpukan talenta terbaik di birokrasi negara dianggap dapat mematikan bara inovasi di China.
“Tren ini dapat melemahkan dinamika inovasi di ekonomi swasta karena lulusan terbaik lebih memilih birokrasi negara daripada jalur kewirausahaan yang berisiko tinggi,” pungkas Mingjiang Li, profesor dari S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura.
Kini, di balik meja-meja ujian yang sunyi, jutaan pemuda China sedang bertaruh. Bukan lagi untuk kekayaan instan di perusahaan rintisan (startup), melainkan demi kepastian di atas meja makan mereka.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













