
NARASITODAY.COM, WASHINGTON DC – Air Sungai Potomac yang tenang pada Januari lalu menjadi saksi bisu bagi tragedi penerbangan komersial paling mematikan di Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir.
Kini, setelah berbulan-bulan teka-teki menyelimuti penyebab kecelakaan, Pemerintah AS akhirnya memberikan jawaban pahit: mereka mengakui bertanggung jawab penuh atas tabrakan maut antara helikopter militer dan pesawat penumpang tersebut.
Pengakuan mengejutkan ini tertuang dalam berkas gugatan perdata setebal 209 halaman yang diajukan oleh Departemen Kehakiman AS sebagai respons atas tuntutan keluarga salah satu korban tewas.
Dalam dokumen hukum yang dilansir AFP, Kamis (18/11/2025), Pemerintah AS secara terbuka mengakui adanya kelalaian fatal dari sisi militer dan otoritas kendali udara.
“Amerika Serikat mengakui bahwa mereka memiliki kewajiban untuk berhati-hati terhadap Penggugat, yang telah dilanggar, sehingga secara langsung menyebabkan kecelakaan tragis tersebut,” demikian bunyi awal dokumen resmi tersebut.
Tragedi ini bermula pada 29 Januari lalu, saat pesawat American Eagle dari Wichita, Kansas, sedang bersiap mendarat di Bandara Nasional Ronald Reagan. Di saat bersamaan, sebuah helikopter militer UH-60 Black Hawk milik Angkatan Darat AS melintas di jalur yang sama. Benturan hebat di udara tak terhindarkan, mengirimkan kedua puing pesawat tersebut jatuh menghujam dinginnya Sungai Potomac.
Pemerintah AS mengakui bahwa meskipun risiko tabrakan di wilayah udara padat tidak pernah bisa nol, ada kegagalan manusia yang menjadi penyebab utama. Dokumen pengadilan menyoroti ketidakmampuan pilot Black Hawk untuk menjaga kewaspadaan visual guna menghindari pesawat lain.
Tak hanya pilot, para pengontrol lalu lintas udara di Bandara Reagan juga disebut “tidak mematuhi” peraturan federal. Investigasi pendahuluan oleh Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) mengungkapkan adanya masalah komunikasi yang fatal.
Peringatan tentang keberadaan jet komersial yang dikirimkan menara pengawas ke helikopter dilaporkan tidak terdengar jelas, dan instruksi penting untuk berbelok tidak pernah diterima oleh kru helikopter sesaat sebelum tabrakan.
Kecelakaan ini merenggut 67 nyawa dalam sekejap 64 orang di pesawat komersial dan tiga tentara AS di dalam helikopter Black Hawk. Suasana mencekam di lokasi kejadian pada saat itu masih terekam jelas dalam ingatan publik.
“Pada titik ini kami tidak yakin ada yang selamat,” kata Kepala Pemadam Kebakaran Washington, John Donnelly, dalam konferensi pers di dekat lokasi kecelakaan saat proses evakuasi awal dilakukan.
Meskipun investigasi penuh NTSB masih berlangsung dan diperkirakan memakan waktu hingga satu tahun, pengakuan dari Departemen Kehakiman ini menjadi titik balik penting bagi keluarga korban yang mencari keadilan. Kini, Bandara Nasional Ronald Reagan telah menerapkan protokol keselamatan yang jauh lebih ketat, sebuah perubahan besar yang harus dibayar mahal oleh 67 nyawa yang hilang di Potomac.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com













