Kementerian Pendidikan Korsel Buat Keputusan Kontroversial, Tutup 4.000 Sekolah di Seluruh Negeri

0
Kementerian Agama
Ilustrasi bangku sekolah. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, SEOUL – Lorong-lorong sekolah yang dulunya riuh dengan suara tawa siswa di Korea Selatan kini kian sunyi. Kementerian Pendidikan setempat secara resmi mengumumkan penutupan permanen lebih dari 4.000 sekolah di seluruh penjuru negeri, sebuah dampak nyata dari krisis tingkat kelahiran yang kian mengkhawatirkan di negara tersebut.

Data terbaru hingga Maret 2025 menunjukkan sebanyak 4.008 institusi pendidikan, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah tinggi, terpaksa berhenti beroperasi. Dalam periode yang sama, jumlah siswa yang terdaftar merosot tajam dari 9,9 juta menjadi hanya 5,07 juta orang sebuah kehilangan separuh populasi pelajar hanya dalam beberapa dekade.

Baca Juga :  Najib Razak Terjerat Hukum Lagi! Vonis 15 Tahun Penjara dan Denda Rp40 Triliun untuk Skandal Dana 1MDB

Sekolah dasar menjadi garda yang paling terdampak oleh tren penurunan ini, dengan 3.674 sekolah dinyatakan ditutup selamanya. Fenomena ini kemudian menjalar ke jenjang yang lebih tinggi, di mana 264 sekolah menengah dan 70 sekolah tinggi juga mengalami nasib serupa.

Dalam lima tahun terakhir saja, 158 sekolah telah berhenti berfungsi, dan 107 lainnya diproyeksikan akan menyusul dalam lima tahun ke depan. Kondisi ini mencerminkan laju tingkat kesuburan Korea Selatan yang kini berada di bawah 0,8 angka terendah di dunia.

Anggota Parlemen dari Partai Demokrat Korea, Jin Sun-mee, menyoroti bahwa krisis ini memukul wilayah provinsi jauh lebih keras dibandingkan ibu kota Seoul. Provinsi Jeolla Utara memimpin jumlah penutupan terbanyak dengan 16 sekolah, disusul oleh Jeolla Selatan (15) dan Gyeonggi (12).

Baca Juga :  Pemkab Bogor Lakukan Perencanaan Terintegrasi untuk Tekan Kemiskinan dan Pengangguran

Di balik angka-angka tersebut, terdapat masalah baru: ratusan bangunan sekolah kini menjadi “gedung hantu”. Dari ribuan sekolah yang ditutup, 376 bangunan belum dimanfaatkan kembali, bahkan 82 di antaranya telah terbengkalai selama lebih dari 30 tahun.

“Sejumlah besar sekolah telah ditutup, dan ini akan terus berlanjut seiring dengan penurunan jumlah siswa,” kata Jin Sun-mee, dikutip dari Korea Times, Senin (29/12/2025).

Pemerintah memprediksi jumlah siswa akan terus menyusut sebanyak 1 juta jiwa dalam enam tahun mendatang, hingga hanya tersisa sekitar 4,25 juta pelajar pada tahun 2029. Jin menekankan bahwa pemerintah tidak boleh membiarkan aset pendidikan tersebut hancur dimakan waktu.

Baca Juga :  Dua Menteri Ramaikan Munas BEM SI 2025 di IPB, Fokus pada Penguatan Pendidikan dan Pertanian

“Kita tidak boleh hanya berhenti pada penutupan sekolah, tetapi harus mengembangkan peta jalan jangka panjang untuk memanfaatkan kembali sekolah-sekolah tersebut sebagai aset bagi masyarakat setempat,” sambung Jin.

Transformasi sekolah menjadi pusat komunitas atau fasilitas umum kini menjadi agenda mendesak bagi pemerintah Korea Selatan, di saat harapan akan ledakan kelahiran baru masih terasa jauh dari kenyataan.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com