Mengulik 5 Tanggung Jawab Anak Sulung yang Kerap Jadi Sumber Tekanan

0
anak
Ilustrasi Seorang ibu mengajari putri sulung dan putra bungsunya. Foto : Istock

NARASITODAY.COM – Menjadi anak sulung sering kali dipandang sebagai posisi istimewa dalam keluarga. Ia dianggap lebih dewasa, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi berbagai situasi. Namun di balik label “panutan” tersebut, anak sulung kerap memikul tanggung jawab besar yang tidak jarang menjadi sumber tekanan emosional dan mental.

Berbagai penelitian psikologi keluarga menunjukkan bahwa anak pertama cenderung dibesarkan dengan ekspektasi lebih tinggi dibandingkan adik-adiknya. Berikut lima tanggung jawab anak sulung yang kerap tanpa disadari membebani mereka.

1. Menjadi Contoh bagi Adik-Adik

Anak sulung hampir selalu dituntut menjadi teladan. Sikap, prestasi, hingga cara berbicara sering dijadikan standar bagi adik-adiknya. Kesalahan kecil pun kerap dianggap berdampak besar karena “akan ditiru”, sehingga anak sulung merasa harus selalu tampil sempurna.

Baca Juga :  5 Resiko yang Timbul akibat Pola Asuh Otoriter dalam Keluarga

2. Dipaksa Lebih Cepat Dewasa

Banyak anak sulung yang sejak dini didorong untuk bersikap dewasa dan mandiri. Mereka sering diminta mengalah, memahami situasi, bahkan menekan emosi demi keharmonisan keluarga. Akibatnya, kebutuhan emosional mereka sendiri kerap terabaikan.

3. Tanggung Jawab Mengasuh Adik

Dalam banyak keluarga, anak sulung ikut berperan sebagai “orang tua kedua”. Menjaga adik, membantu belajar, hingga memastikan adik berperilaku baik menjadi tanggung jawab tidak tertulis. Peran ini bisa mengurangi ruang anak sulung untuk menikmati masa kanak-kanak atau remajanya secara utuh.

Baca Juga :  Cara Membuat Beras Kencur yang Enak dan Gak Pahit, Simak Resepnya

4. Harapan Tinggi dalam Prestasi

Anak sulung sering dijadikan tolok ukur keberhasilan keluarga, terutama dalam pendidikan dan karier. Orang tua menaruh harapan besar agar mereka sukses lebih dulu. Tekanan ini dapat memicu kecemasan, rasa takut gagal, bahkan perfeksionisme berlebihan.

5. Penopang Keluarga di Masa Depan

Tak jarang anak sulung diproyeksikan sebagai tulang punggung keluarga, baik secara finansial maupun moral. Ekspektasi untuk “bertanggung jawab” atas keluarga di masa depan bisa menjadi beban psikologis yang berat, terutama ketika mereka belum siap secara mental maupun ekonomi.

Baca Juga :  Kenali 5 Jenis Kanker yang Sering Menyerang Anak dan Gejalanya

Perlu Dukungan dan Ruang Bicara

Psikolog keluarga menilai penting bagi orang tua untuk menyadari tekanan yang dialami anak sulung. Memberi ruang untuk mengekspresikan perasaan, membagi tanggung jawab secara adil, serta mengapresiasi usaha mereka dapat membantu mengurangi beban tersebut.

Anak sulung bukan sekadar simbol kedewasaan atau penopang keluarga. Mereka tetap anak-anak yang membutuhkan perhatian, dukungan, dan kesempatan untuk tumbuh tanpa tekanan berlebihan.***

Editor : Alysa

Sumber : idntimes.com