Kekerasan di Gaza Meningkat, Puluhan Warga Tewas Dalam Serangan Udara Israel Menjelang Pembukaan Perbatasan Rafah

0
Gaza
Serangan udara Israel ke zona pengungsian dan pemukiman menewaskan warga sipil, memperpanjang deretan duka di tengah krisis kemanusiaan yang belum berujung.Foto : REUTERS/Dawoud Abu Alkas

NARASITODAY.COM, GAZA – Langit Gaza kembali pekat oleh debu dan duka. Di saat warga menaruh harapan pada rencana pembukaan kembali perbatasan Rafah, serangan udara militer Israel justru menghantam zona pengungsian dan pemukiman, menewaskan sedikitnya 12 warga Palestina pada Sabtu (31/1/2026). Ironisnya, setengah dari korban jiwa tersebut adalah anak-anak yang terjebak dalam pusaran konflik yang tak kunjung usai.

Serangan ini terjadi hanya sehari sebelum gerbang Rafah dijadwalkan dibuka untuk pertama kalinya sejak Mei 2024. Namun, alih-alih suasana persiapan yang tenang, wilayah Mawasi di barat laut Khan Younis yang sebelumnya diklaim sebagai zona aman justru luluh lantak dihantam rudal yang menewaskan tujuh orang, termasuk tiga anak-anak.

Baca Juga :  5 Sup Ini Sering Ditemui saat Perayaan Tahun Baru Imlek

Gelombang Kejut di Jantung Kota

Kekerasan merambat cepat ke utara. Di lingkungan Remal, Kota Gaza, sebuah apartemen residensial menjadi sasaran fatal. Koresponden Al Jazeera, Hani Mahmoud, yang berada di dekat lokasi kejadian, menggambarkan detik-detik mencekam saat ledakan itu merobek udara.

“Kami bisa merasakan gelombang kejut dari ledakan yang diikuti oleh awan debu gelap besar yang memenuhi area tersebut, menewaskan sedikitnya lima orang di dalam apartemen residensial, termasuk seorang ibu dan anak-anak,” ungkap Hani Mahmoud dalam laporannya, Sabtu (31/1/2026).

Tak jauh dari sana, di lingkungan Daraj, delapan warga lainnya dilaporkan terluka akibat pemboman terpisah. Data Kantor Media Pemerintah Gaza menunjukkan angka yang mengerikan: sejak gencatan senjata yang diperantarai AS dimulai 10 Oktober lalu, sedikitnya 524 nyawa telah melayang.

Baca Juga :  Pengendara Motor Wanita Tewas dalam Kecelakaan di Jalan Raya Iwul Kabupaten Bogor

Harapan yang Terbelenggu di Rafah

Di tengah dentuman bom, otoritas tetap merencanakan pembukaan gerbang Rafah pada Minggu besok. Namun, pembukaan ini jauh dari kata leluasa. Israel menegaskan aturan yang sangat ketat; tidak ada bantuan kemanusiaan atau logistik yang diizinkan lewat, dan pemeriksaan keamanan akan dilakukan secara berlapis.

Kebijakan ini memicu kritik tajam karena dinilai diskriminatif dan memutus harapan warga yang ingin berkumpul kembali dengan keluarga mereka.

“Hanya mereka yang melarikan diri selama dua tahun terakhir yang diizinkan kembali. Mereka yang lahir di luar Jalur Gaza tidak akan diizinkan untuk kembali,” jelas Mahmoud mengenai pembatasan ketat tersebut.

Baca Juga :  Paslon Rudy Susmanto-Jaro Ade Siapkan Program Sekolah Gratis bagi Siswa Kurang Mampu di Bogor

Hamas merespons situasi ini dengan mendesak Israel agar mematuhi poin-poin gencatan senjata dan menuntut pergerakan keluar-masuk Gaza dibuka tanpa batasan sepihak.

Tragedi yang Terus Berlanjut

Sejak 7 Oktober 2023, Gaza telah menjadi saksi bisu dari krisis kemanusiaan yang disebut banyak pihak sebagai salah satu yang terkelam di abad ini. Dengan total korban jiwa melampaui 71.600 orang, setiap jengkal tanah di wilayah kantong ini kini membawa beban duka yang mendalam.

Bagi warga Gaza, pembukaan Rafah besok mungkin adalah sebuah pintu, namun dengan serangan yang terus berlangsung, pintu tersebut masih terasa berada di balik bayang-bayang maut.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com