NARASITODAY.COM, TEHERAN – Genderang perang kembali terdengar di kawasan Teluk. Di tengah kepungan kapal induk USS Abraham Lincoln milik Amerika Serikat yang berpatroli di perairan Timur Tengah, Iran secara tegas menyatakan pasukannya kini berada dalam kondisi siaga tempur penuh.
Panglima Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, pada Sabtu (31/1/2026) memberikan peringatan keras kepada Washington dan Tel Aviv. Di hadapan ancaman serangan fisik, Hatami menegaskan bahwa keahlian nuklir Teheran telah mendarah daging dan tidak akan bisa dimusnahkan oleh kekuatan militer mana pun.
Siaga di Bawah Bayang-Bayang Kapal Induk
Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung atas harapan Presiden AS Donald Trump agar Iran memilih jalur negosiasi untuk menghindari gempuran. Namun, bagi Teheran, kedaulatan bukan untuk ditawar.
“Jika musuh melakukan kesalahan, tanpa ragu itu akan membahayakan keamanannya sendiri, keamanan kawasan, dan keamanan rezim Zionis,” kata Hatami, sebagaimana diberitakan AFP yang mengutip kantor berita IRNA.
Ketegangan ini bukan tanpa dasar. Ingatan publik masih segar pada Juni lalu, saat AS dan Israel membombardir situs-situs nuklir utama Iran dalam perang kilat 12 hari yang menewaskan perwira serta ilmuwan terkemuka. Namun, bagi Hatami, kematian para pakar tidak akan menghentikan ambisi nuklir negaranya.
“Teknologi nuklir Iran tidak dapat dihilangkan, bahkan jika para ilmuwan dan putra-putra bangsa ini menjadi martir,” tegas Hatami.
Bara di Selat Hormuz
Suasana semakin memanas di jalur nadi energi dunia, Selat Hormuz. Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tengah bersiap melakukan latihan tembak langsung selama dua hari. Langkah ini dibaca Washington sebagai “perilaku tidak profesional” di dekat pasukan mereka, terutama setelah Uni Eropa secara resmi melabeli IRGC sebagai organisasi teroris pekan lalu.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sempat memberi sinyal diplomasi, namun dengan syarat yang kaku: sistem rudal dan pertahanan Iran “tidak akan pernah dinegosiasikan.”
Duka Domestik dan Seruan Keadilan
Di dalam negeri, Iran sendiri sedang terluka. Gelombang protes antipemerintah yang dipicu kenaikan biaya hidup sejak Desember lalu meninggalkan jejak darah yang dalam. Meski Teheran menuduh kerusuhan ini sebagai operasi teroris yang dipicu AS dan Israel, jumlah korban jiwa yang jatuh sangatlah masif.
Data resmi menyebut 3.117 nyawa melayang, namun lembaga hak asasi manusia HRANA mengonfirmasi angka yang jauh lebih mengerikan, yakni 6.563 kematian, termasuk 124 anak-anak.
Di tengah suasana yang menyesakkan itu, Presiden Masoud Pezeshkian muncul di televisi nasional dengan nada yang lebih merangkul.
“Kita harus bekerja dengan rakyat dan untuk rakyat serta melayani rakyat semaksimal mungkin. Jika kita bertindak adil, rakyat akan melihatnya dan menerimanya,” ujar Pezeshkian dalam pidatonya.
Sepuluh Hari Penantian
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei memilih untuk kembali ke akar revolusi. Ia mengunjungi makam Ruhollah Khomeini untuk memperingati 47 tahun Revolusi Islam. Di sana, di tengah doa-doa yang dipanjatkan, Iran seolah sedang mengonsolidasikan kekuatan menghadapi tekanan dari dalam sekaligus kepungan dari luar.
Kini, dunia hanya bisa menanti: apakah kesiapan militer penuh ini akan berujung pada ledakan konflik baru, ataukah hanya gertakan di atas papan catur geopolitik yang kian panas.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














