NARASITODAY.COM, JAKARTA – Florence Pugh dikenal sebagai aktris dengan pilihan peran yang emosional dan berlapis. Dari drama keluarga hingga thriller psikologis, karakter yang ia mainkan hampir selalu meninggalkan kesan mendalam. Menariknya, selera baca Florence Pugh juga mencerminkan hal serupa—penuh konflik batin, karakter kuat, dan dunia cerita yang intens.
Dalam beberapa kesempatan, Florence Pugh menyebutkan sejumlah novel yang membekas baginya. Daftar bacaan ini terasa personal dan beragam, mulai dari fiksi ilmiah epik, kisah coming of age yang gelap, hingga novel klasik dan thriller legendaris. Bagi pencinta buku yang mencari cerita bermakna dan emosional, pilihan-pilihan ini layak masuk reading list.
Dune karya Frank Herbert menjadi salah satu novel favoritnya. Cerita tentang Paul Atreides ini bukan sekadar petualangan di planet gurun, tetapi juga kisah tentang takdir, kekuasaan, dan perubahan diri di bawah tekanan besar. Dunia kompleks dan tema spiritual-politiknya membuat novel ini terasa relevan dan mendalam.
Novel The Girls karya Emma Cline menghadirkan potret sunyi tentang remaja, kesepian, dan keinginan untuk diterima. Berlatar California akhir 1960-an, kisah ini mengikuti Evie Boyd yang terseret ke lingkaran kelompok berbahaya. Ceritanya pelan, tapi penuh ketegangan emosional yang membekas.
Sementara itu, The Secret Garden karya Frances Hodgson Burnett menawarkan nuansa yang lebih lembut dan magis. Di balik kesan novel anak-anak, tersimpan kisah penyembuhan emosional, harapan, dan kekuatan alam dalam memulihkan luka batin. Buku ini disebut Florence Pugh sebagai bacaan yang hangat dan mengubah cara pandangnya.
Tak ketinggalan, Little Women karya Louisa May Alcott juga punya tempat istimewa, terlebih karena Florence Pugh memerankan Amy March dalam adaptasi filmnya. Novel klasik ini berbicara tentang mimpi, pilihan hidup, dan ambisi perempuan tanpa menghakimi.
Daftar ini ditutup dengan The Silence of the Lambs karya Thomas Harris, sebuah thriller psikologis dengan duel intelektual yang dingin dan intens. Di balik horornya, novel ini menyoroti keberanian, trauma, dan kekuatan karakter perempuan, tema yang juga sering muncul dalam karya-karya Florence Pugh.
Kelima novel favorit Florence Pugh ini bukan hanya populer atau klasik, tetapi juga menawarkan kedalaman cerita yang membuat pembacanya terus berpikir bahkan setelah halaman terakhir ditutup. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : idntimes.com














