
NARASITODAY.COM, KAIRO – Gersangnya lanskap East Oweinat, sebuah pangkalan udara terpencil di barat daya Mesir, deru mesin pesawat tanpa awak menandai babak baru keterlibatan Kairo dalam konflik Sudan. Mesir dilaporkan telah mengerahkan Bayraktar Akinci, drone tempur paling canggih buatan Turki, ke wilayah perbatasan tersebut guna membendung pergerakan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Langkah ini menandai pergeseran drastis kebijakan Kairo. Selama ini, Mesir dikenal sebagai penyokong politik utama bagi militer Sudan, namun cenderung menahan diri dari intervensi militer langsung. Namun, jatuhnya kota strategis Al Fashir ke tangan RSF pada Oktober lalu tampaknya menjadi titik balik yang memaksa Mesir menarik “pedang” dari sarungnya.
Mata di Langit: Bukti Satelit dan Data Penerbangan
Pengerahan alutsista kelas berat ini terendus melalui citra satelit dari perusahaan teknologi ruang angkasa AS, Vantor. Gambar-gambar tersebut memperlihatkan siluet drone besar di apron bandara East Oweinat pada September hingga Januari lalu. Dua pakar militer mengidentifikasi pesawat tersebut sebagai Akinci drone yang mampu mengudara selama 24 jam penuh dengan muatan amunisi mematikan.
Dugaan ini diperkuat oleh data FlightRadar24. Sejak September, lima dari enam penerbangan menuju East Oweinat terlacak berasal dari Turki, termasuk pesawat kargo Angkatan Udara Turki dari Tekirdag, lokasi pengujian resmi drone Akinci.
Dua pejabat keamanan Mesir mengungkapkan kepada Reuters bahwa dua bandara di selatan telah disuplai peralatan militer selama delapan bulan terakhir. Tujuannya tegas: mengamankan perbatasan dan melakukan serangan militer demi melindungi keamanan nasional.
Harga Sebuah Keamanan Nasional
Bagi Kairo, stabilitas Sudan bukan sekadar urusan tetangga, melainkan integritas wilayahnya sendiri. Mesir telah memperingatkan sejak Desember bahwa mereka tidak akan membiarkan adanya “entitas paralel” yang mengancam persatuan Sudan.
“Mesir tidak mengizinkan siapa pun hadir di perbatasannya dan mengancam keamanan nasionalnya. Mesir akan melakukan intervensi langsung dan mengelola situasi tersebut. Ini adalah hak setiap negara di dunia,” ujar Samir Farag, pensiunan perwira militer Mesir kepada Reuters, Selasa (3/2/2026).
Di sisi lain, pemimpin RSF Mohamed Hamdan Dagalo sudah merasakan dampak dari pengerahan ini. Ia secara terbuka menuduh Mesir terlibat dalam serangan udara terhadap pasukannya dan mengancam akan menjadikan bandara-bandara di negara tetangga sebagai “target sah” bagi para pejuangnya.
Menyeimbangkan Ambisi dan Ketergantungan
Intervensi Mesir ini juga merupakan tarian diplomatik yang rumit. Di satu sisi, Kairo muak dengan kemajuan RSF, namun di sisi lain, mereka sangat bergantung secara finansial pada Uni Emirat Arab (UEA) yang disebut-sebut sebagai pendukung utama RSF.
“Militer Mesir sama sekali tidak memiliki kedekatan dengan Rapid Support Forces. Namun Mesir bergantung pada Uni Emirat Arab untuk bantuan keuangan,” jelas Jalel Harchaoui, pakar dari Royal United Services Institute. Namun, ia menambahkan bahwa ketika benteng Al Fashir runtuh, “keseimbangan Kairo bergeser untuk mengambil tindakan yang lebih tegas terhadap RSF.”
Kini, dengan Akinci yang bersiaga di East Oweinat, Mesir mengirimkan pesan jelas kepada dunia: garis merah di selatan tidak lagi bisa dinegosiasikan.****
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













