NARASITODAY.COM, HANOI – Jabat tangan hangat dan senyum lebar para diplomat di meja perundingan, tersimpan kecurigaan mendalam yang membeku di jantung militer Vietnam. Sebuah dokumen internal militer yang bocor mengungkap bahwa Hanoi masih memandang Amerika Serikat (AS) mitra strategis terpentingnya saat ini sebagai ancaman eksistensial yang berpotensi melakukan agresi.
Laporan yang dirilis oleh The 88 Project pada Selasa (3/2/2026) menyoroti dokumen berjudul “Rencana Invasi AS ke-2”. Dokumen yang diselesaikan Kementerian Pertahanan Vietnam pada Agustus 2024 ini membedah skenario “perang agresi” serta upaya eksternal untuk menggulingkan stabilitas Partai Komunis Vietnam.
Meski hubungan kedua negara telah mencapai level Kemitraan Strategis Komprehensif setara dengan hubungan Vietnam ke China dan Rusia para perencana militer Vietnam tampaknya enggan menurunkan kewaspadaan.
“Meski risiko perang langsung dengan Vietnam saat ini sangat kecil, karena sifat agresif AS, kami harus tetap waspada terhadap kemungkinan diciptakannya dalih untuk invasi,” tulis dokumen tersebut, sebagaimana dikutip dari The Associated Press.
Kekhawatiran ini bukan sekadar ketakutan akan serangan fisik. Hanoi sangat mencemaskan fenomena “revolusi warna” gerakan politik pro-demokrasi yang dinilai dapat memicu pemberontakan internal seperti yang pernah terjadi di Ukraina dan Filipina. Ekspor nilai-nilai kebebasan dan hak asasi manusia oleh Washington dipandang sebagai strategi halus untuk meruntuhkan sistem sosialis Vietnam dari dalam.
Ben Swanton, Direktur The 88 Project, menegaskan bahwa pandangan ini merupakan konsensus di berbagai kementerian, bukan sekadar opini kelompok marginal.
“Hanoi tidak melihat Washington sebagai mitra strategis sejati, melainkan ancaman eksistensial,” tulis Swanton dalam analisisnya.
Menariknya, dokumen tersebut justru menunjukkan posisi unik China. Meski Vietnam dan China kerap bersitegang di Laut China Selatan, militer Vietnam menganggap Beijing sebagai “pesaing regional”, bukan ancaman yang mengincar kedaulatan rezim seperti halnya AS.
Para analis menilai memori pahit Perang Vietnam yang berakhir pada 1975 masih membekas kuat di faksi konservatif Partai Komunis. Profesor Zachary Abuza dari National War College di Washington menyebutkan bahwa bagi pemimpin Vietnam, ancaman terbesar bukanlah peluru, melainkan perubahan ideologi.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS memilih untuk tidak berkomentar spesifik mengenai dokumen tersebut. Mereka tetap menegaskan komitmennya bahwa:
“Vietnam yang kuat, mandiri, dan tangguh menguntungkan kedua negara dan membantu menjaga Indo-Pasifik tetap stabil dan terbuka.”
Hingga kini, Kementerian Luar Negeri Vietnam belum memberikan tanggapan resmi. Di tengah rivalitas global, Vietnam kini berdiri di atas tali tipis dan menjadikan China sebagai mitra dagang terbesar bersama AS sebagai pasar ekspor utama, sembari terus menjaga benteng ideologinya dari pengaruh Barat.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













