NARASITODAY.COM, NIIGATA – Setelah hampir 15 tahun membeku dalam sunyi, reaktor nuklir terbesar di dunia, Kashiwazaki-Kariwa, bersiap kembali menderu. Tokyo Electric Power (TEPCO) mengonfirmasi akan menghidupkan kembali pembangkit raksasa yang terletak di Provinsi Niigata tersebut pada Senin, 9 Februari 2026.
Langkah besar ini sempat tertunda dari jadwal semula pada 20 Januari lalu akibat gangguan teknis pada sistem alarm. Namun, TEPCO memastikan bahwa kendala tersebut telah teratasi dan tidak menyentuh aspek keamanan inti reaktor.
“Gangguan tersebut terkait dengan pengaturan alarm dan tidak memengaruhi pengoperasian pembangkit yang aman,” tegas Kepala Pembangkit Kashiwazaki-Kariwa, Takeyuki Inagaki, sebagaimana dikutip dari AFP, Jumat (6/2/2026).
Kashiwazaki-Kariwa adalah simbol ambivalensi Jepang terhadap nuklir. Memiliki tujuh reaktor, kompleks ini sempat mati suri pasca-tragedi Fukushima 2011 yang mengguncang dunia. Kini, di bawah pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi, nuklir dipandang sebagai “obat pahit” untuk melepaskan Jepang dari ketergantungan impor bahan bakar fosil yang mencapai 70% dari pasokan listrik nasional.
Apalagi, Jepang tengah menghadapi lonjakan permintaan listrik akibat ekspansi pusat data kecerdasan buatan (AI) yang masif. Namun, bagi warga seperti Ayako Oga (52), angka-angka ekonomi tidak bisa menghapus ingatan kolektif tentang bencana.
“Kami tahu secara langsung risiko kecelakaan nuklir dan tidak bisa mengabaikannya,” ujar Ayako, yang mengaku masih mengidap trauma akibat peristiwa belasan tahun silam.
Penolakan memang masih menggema. Survei prefektur Oktober lalu menunjukkan 60% warga merasa syarat pengaktifan belum terpenuhi, sementara 70% lainnya masih meragukan kredibilitas TEPCO sebagai operator.
Sebagai kompensasi sekaligus upaya meredam resistensi, TEPCO menjanjikan kucuran investasi sebesar 100 miliar yen (sekitar Rp10,8 triliun) ke Niigata yang akan dicairkan selama satu dekade ke depan. Gubernur Niigata, Hideyo Hanazumi, yang berada di persimpangan jalan antara kebutuhan energi dan suara rakyat, mengakui adanya dilema besar ini.
“Saya ingin melihat era di mana kita tidak perlu bergantung pada sumber energi yang menimbulkan kecemasan,” ungkap Hanazumi.
Meski diliputi kecemasan, roda kebijakan tetap berputar. Pengaktifan Kashiwazaki-Kariwa akan menjadi tonggak ke-15 dari 33 reaktor yang kembali beroperasi di Jepang, sebuah langkah pragmatis demi mengamankan ekonomi dari beban impor energi yang mencapai 10,7 triliun yen pada tahun lalu.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














