Estonia Krisis Kayu Bakar Kering di Musim Dingin Brutal

0
Estonia
Ilustrasi Bendera Estonia.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TALLINN Estonia tengah dikepung oleh suhu ekstrem yang mencapai minus 15 derajat Celsius di malam hari. Namun, di tengah musim dingin terdingin dalam 25 tahun terakhir ini, kehangatan menjadi barang mewah yang sulit didapat. Stok kayu bakar kering dilaporkan nyaris ludes di seluruh negeri.

Krisis ini bukan sekadar masalah cuaca. Kombinasi antara keterbatasan stok lama dan lonjakan harga listrik pasca-pemisahan jaringan energi dari Rusia telah menciptakan “badai sempurna” yang memukul sektor pemanas rumah tangga.

Bagi para pelaku usaha, memproduksi kayu bakar saat ini bukan lagi bisnis yang menguntungkan. Tingginya tarif listrik membuat mesin pengolah kayu menjadi beban biaya yang tak masuk akal.

Baca Juga :  Harga BBM Komersial Kompak Berubah per Juni 2026: Varian Diesel Turun, Bensin Ron 98 Naik

Tarmo Kamm, seorang warga lokal yang telah menggeluti bisnis pengeringan kayu selama lebih dari tiga dekade, mengungkapkan dilema yang dihadapinya. Biaya operasional untuk memotong dan membelah kayu kini melambung tinggi.

“Harga listrik sangat tinggi sehingga saat ini tidak ada gunanya menggergaji dan membelah kayu menggunakan listrik. Saya bisa menggergaji lebih dulu dengan gergaji mesin berbahan bakar bensin, tetapi tetap harus membelahnya dengan listrik. Motornya 4 kilowatt, silakan hitung sendiri,” kata Kamm kepada media lokal ERR, dikutip Selasa (17/2/2026).

Kondisi serupa dirasakan di berbagai penggergajian kayu. Taavi Rada, pemilik penggergajian lainnya, mengonfirmasi bahwa gudang-gudang mereka kini hanya menyisakan kayu yang masih hijau atau basah.

Baca Juga :  Pemkab Bogor Terima Tim Verifikasi Akhir P2WKSS Jawa Barat Di Desa Cibunian Pamijahan

“Saat ini kami hanya memiliki kayu segar. Kami tidak memiliki kayu kering lagi,” ujar Rada.

Kelangkaan ini memaksa sebagian warga beralih ke kayu mentah yang lebih murah namun tidak efisien. Padahal, kayu bakar idealnya membutuhkan waktu pengeringan hingga dua tahun untuk mencapai tingkat kelembapan di bawah 20%. Menggunakan kayu basah hanya akan menghasilkan asap berlebih dan panas yang minim sebuah kompromi berbahaya di tengah suhu beku.

Tak hanya kayu, alternatif lain seperti briket dan pelet juga mulai menghilang dari pasar grosir. Hal ini disebabkan karena proses produksinya sangat bergantung pada konsumsi listrik skala besar, yang harganya kini melonjak hampir dua kali lipat sejak negara-negara Baltik memutuskan hubungan dengan jaringan listrik Rusia.

Baca Juga :  Percepat Kinerja, Bupati Bogor Rudy Susmanto Kembali Rotasi 53 Pejabat di Lingkungan Pemkab Bogor

Langkah Estonia, Latvia, dan Lithuania untuk memutus ketergantungan energi dari Moskow demi keamanan nasional kini harus dibayar mahal oleh konsumen domestik. Meskipun langkah ini diambil untuk mencegah Rusia menggunakan listrik sebagai senjata geopolitik, transisi tersebut bertepatan dengan kebutuhan pemanas yang melonjak drastis.

Kini, warga Estonia harus bertahan di tengah musim dingin yang menggigit, sembari menimbang-nimbang antara tagihan listrik yang mencekik atau perapian yang hanya mengeluarkan asap dari kayu basah.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com