Kerusuhan Pakistan Picu 20 Tewas Usai Kematian Khamenei, Massa Geruduk Konsulat AS

0
Khamenei
Kabut gas air mata membumbung di jalanan Islamabad hingga Karachi, Minggu (1/2/2026), saat aksi duka atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara di Teheran berubah menjadi kerusuhan berdarah.Foto : metrotvnews.com

NARASITODAY.COM, ISLAMABADKabut gas air mata menyelimuti jalanan utama Islamabad hingga Karachi pada Minggu (1/2/2026). Gelombang kemarahan yang dipicu oleh tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara AS-Israel di Teheran, berubah menjadi tragedi berdarah yang menyapu kota-kota besar di Pakistan. Sedikitnya 20 nyawa melayang dan puluhan lainnya luka-luka dalam bentrokan antara massa dan aparat keamanan.

Luka terdalam dirasakan di Karachi dengan 10 korban jiwa, disusul wilayah utara Skardu dengan delapan korban tewas, serta dua orang di ibu kota Islamabad. Aksi yang semula merupakan bentuk duka cita mendalam dari komunitas Syiah yang mencakup 20% dari 250 juta penduduk Pakistan dengan cepat eskalasi menjadi konfrontasi terbuka.

Prahara di Gerbang Diplomatik

Di Islamabad, ribuan orang termasuk perempuan dan anak-anak berkumpul di depan kawasan Red Zone. Sambil mengusung poster wajah Khamenei, mereka meneriakkan slogan anti-Amerika dan Israel. Namun, kesepakatan damai dengan otoritas setempat goyah saat massa mencoba merangsek masuk ke zona diplomatik yang menaungi Kedutaan Besar AS.

Baca Juga :  Lingkaran Perang Meluas, Sekutu Barat dan Negara Teluk Bersiap Balas Iran

Ali Nawab, seorang pekerja dari partai politik Syiah Majlis Wahdat-e-Muslimeen, mencoba meredam provokasi di lapangan.

“Ada beberapa orang yang bisa Anda lihat di sini yang sengaja mencoba melakukan gerakan provokatif dan membuat kami melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kami lakukan. Kami di sini untuk suatu tujuan, dan kami akan bergerak maju ketika diperintahkan kepada kami,” ujarnya dilansir dari Al Jazeera.

Namun, situasi tak terkendali. Aparat membalas desakan massa dengan peluru karet dan gas air mata. Di tengah kekacauan itu, Mouwaddid Hussain (52), salah satu peserta aksi, menumpahkan kekecewaannya terhadap tindakan represif aparat.

“Apakah kami musuh negara? Kami di sini untuk berduka atas kematian pemimpin kami, dan kami bahkan tidak bisa berduka di sini? Mereka berjanji akan mengizinkan kami berada di sini dan berdemonstrasi, tetapi mereka melanggar janji mereka,” ucapnya lirih.

Baca Juga :  Iran Perketat Sikap dalam Perundingan Nuklir dengan Amerika Serikat

Karachi dan Skardu Bergejolak

Kerusuhan paling mematikan pecah di Karachi. Massa yang beringas sempat memanjat gerbang Konsulat AS dan memecahkan kaca bangunan sebelum dibubarkan dengan tembakan. Ahli bedah kepolisian, Summaiya Syed, mengonfirmasi 10 orang tewas dalam insiden tersebut.

Kepala Menteri Provinsi Sindh, Murad Ali Shah, menyebut peristiwa ini sebagai tragedi di tengah situasi global yang tidak menentu.

“Di saat negara sedang menghadapi situasi seperti perang, tindakan sabotase terhadap perdamaian dan ketertiban tidaklah tepat,” kata Murad seraya menyatakan solidaritas kepada rakyat Iran.

Sementara itu di wilayah utara yang dingin, Skardu, amarah warga menghanguskan kantor pemantau militer PBB (UNMOGIP), memaksa otoritas memberlakukan jam malam selama tiga hari.

Duka Nasional di Tengah Ketegangan

Pemerintah Pakistan berada di posisi sulit; mengecam pembunuhan Khamenei namun harus meredam amuk warganya sendiri. Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi mencoba menyentuh sisi emosional massa untuk menenangkan keadaan.

Baca Juga :  Rudy Susmanto: Perencanaan Pemekaran Bogor Barat dan Timur Sudah Disampaikan ke Presiden Prabowo

“Setelah kemartiran Ayatollah Khamenei, setiap warga Pakistan merasa sedih sebagaimana halnya warga Iran yang berduka. Kami semua bersama Anda. Kami meminta warga untuk tidak main hakim sendiri,” pintanya.

Senada dengan itu, Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyampaikan duka cita mendalam melalui media sosial, sembari mengkritik pelanggaran hukum internasional dalam serangan tersebut.

Pakistan juga menyatakan keprihatinan atas pelanggaran norma-norma hukum internasional. Sudah menjadi konvensi lama bahwa Kepala Negara/Pemerintahan tidak boleh dijadikan sasaran. Kami berdoa untuk arwah almarhum,” tulis Sharif.

Hingga berita ini diturunkan, pengamanan di sekitar fasilitas diplomatik AS dan negara-negara Barat masih diperketat, mengingat sejarah kelam penyerangan kedutaan yang pernah terjadi di Pakistan pada tahun 1979 silam.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com