NARASITODAY.COM, JAKARTA – Di saat eskalasi militer antara poros Amerika Serikat-Israel dengan Iran memicu kecemasan akan macetnya pasokan energi global, pemerintah Indonesia justru membawa kabar tenang. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan bahwa “napas” bahan bakar minyak (BBM) nasional tetap stabil dan jauh dari ancaman kelumpuhan.
Strategi utama Indonesia adalah dengan memutus ketergantungan langsung pada wilayah konflik. Alih-alih mengandalkan pasokan dari jantung Timur Tengah, Indonesia kini memperkuat jejaring rantai pasok dari tetangga serumpun.
“Impor kita untuk BBM jadi itu tidak diambil dari Middle East. Kita ambil dari mana? Asia Tenggara. Di mana Asia Tenggara itu? Malaysia dan sebagian dari Singapura. Itu tidak ada urusannya sama Selat Hormuz,” ujar Bahlil dalam Podcast Bukan Abuleke Kementerian ESDM, dikutip Kamis (12/3/2026).
Filosofi “Bak Penampung” dan Edukasi Publik
Ada sentuhan menarik saat Bahlil menjelaskan teknis cadangan energi. Ia menggunakan analogi sederhana layaknya kehidupan di desa untuk meluruskan kekhawatiran publik mengenai isu cadangan BBM yang disebut hanya bertahan 21 hari.
Bahlil menggambarkan infrastruktur penyimpanan energi Indonesia seperti bak penampungan air hujan di kampung halamannya yang terus bersirkulasi.
“Dia itu semacam bak. Tahu nggak ada bak? Kalau saya di kampung dulu nggak ada air PAM, ada air bak. Bak itu menampung hujan. Kapasitas mungkin cuma 3 ton. Begitu hujannya tidak ada, airnya ditampung di situ,” kenang Bahlil menggambarkan daya tampung energi nasional.
Ia menegaskan bahwa angka 21 hari bukanlah hitung mundur menuju kekosongan total, melainkan kapasitas sirkulasi harian yang terus terisi ulang.
“Jadi jangan dipikir bodoh 21 hari itu minyak kita habis, bukan itu maksudnya. Jangan diabulekein kasihan rakyat kita. Dikasihlah edukasi yang baik sayang, agar kita tidak gagal paham,” tegasnya. Saat ini, kapasitas simpan RI berada di angka 25 hari, namun Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan penguatan infrastruktur agar mencapai standar minimal tiga bulan.
Swasembada Solar dan PR Besar Bensin
Sektor Solar menjadi primadona dalam laporan ketahanan ini. Berkat operasional Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan sejak awal tahun 2026 serta percepatan kebijakan Biodiesel B40, Indonesia kini berada di ambang kemandirian Solar.
“Nah sekarang, dengan kapasitas industri dalam negeri dan kita sudah dorong biodiesel menjadi B40 yang ke depan bisa kita dorong menjadi B50, kita tidak lagi mengimpor Solar. Ini dulu,” ungkap Bahlil optimistis.
Meski demikian, tantangan besar masih membayangi produk bensin. Dengan kebutuhan mencapai 40 juta kiloliter per tahun, Indonesia masih harus mengimpor sekitar separuhnya karena kapasitas produksi domestik baru menyentuh angka 20 juta kiloliter.
Terkait minyak mentah (crude), Bahlil mengakui sekitar 20% hingga 25% pasokan memang berasal dari Timur Tengah. Namun, sebelum ketegangan di Selat Hormuz memuncak, pemerintah telah melakukan langkah preventif dengan mengalihkan sumber pasokan ke wilayah yang lebih stabil seperti Amerika Serikat, Brasil, hingga Angola.
“Jadi sekalipun Selat Hormuz ditutup, untuk kita punya 20 sampai 25% itu sudah kita alihkan ke negara lain,” pungkasnya.
Langkah taktis ini diambil demi memastikan bahwa meski produksi nasional saat ini berada di angka 605 ribu barel per hari masih di bawah konsumsi 1,6 juta barel roda ekonomi rakyat di pasar-pasar hingga pelosok desa tetap bisa berputar tanpa bayang-bayang kelangkaan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














