Industri Plastik Nasional Alami Tekanan Akibat Konflik Global di Timur Tengah

0
Industri plastik
Ilustrasi Industri plastik.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Industri plastik nasional kini tengah berada di titik nadir. Eskalasi konflik yang kian memanas di Timur Tengah bukan sekadar isu politik jauh di mata, melainkan ancaman nyata yang mulai mencekik rantai pasok dalam negeri. Ketidakpastian di Selat Hormuz jalur nadi perdagangan dunia telah memicu lonjakan harga bahan baku plastik hingga hampir dua kali lipat dari harga normal.

Kondisi ini memaksa para pelaku industri untuk memutar otak lebih keras. Fokus utama mereka kini bergeser; bukan lagi soal ekspansi besar-besaran, melainkan bagaimana bertahan di tengah ketidakpastian stok dan distribusi yang kian karut-marut.

Baca Juga :  Sinergi  Ukhuwah Kuat, Pemkab Bogor dan Muhammadiyah Jalin Sinergi Gelar Apel Akbar Milad ke-112

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiyono, mengungkapkan bahwa intensitas perang yang meningkat telah mengganggu manajemen bahan baku (feedstock) secara fundamental.

“Saat ini situasi perang makin intens, saling serang dan kondisi Selat Hormuz makin sulit. Industri fokus ke manajemen feedstock dan barang jadinya,” kata Fajar kepada CNBC Indonesia, Senin (16/3/2026).

Lonjakan harga yang terjadi tergolong sangat signifikan. Jika sebelumnya harga bahan baku plastik masih berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram (kg), kini para produsen harus merogoh kocek hingga Rp30.000 per kg untuk mendapatkan bahan yang sama.

Baca Juga :  Menteri Kebudayaan Fadli Zon Tetapkan 13 Juli Sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

“Dari Rp15.000-Rp17.000 naik ke Rp30.000 (per kg),” ungkap Fajar secara lugas.

Kenaikan harga di pasar internasional ini pun otomatis merembet ke pasar domestik. Kondisi ini diperparah dengan momentum menjelang hari raya, di mana pembatasan angkutan logistik mulai diberlakukan. Akibatnya, stok yang ada saat ini hanya cukup untuk memenuhi kewajiban kontrak lama, bukan untuk melayani permintaan baru.

Harga internasional naik banyak dan dalam negeri pasang harga naik tinggi, dan kebetulan pas pembatasan angkutan Lebaran, maka stok jualan hanya untuk memenuhi kontrak lama saja,” jelas Fajar.

Baca Juga :  Satpol PP Kota Bogor Gencarkan Razia Miras Ilegal, DPRD Dukung Penegakan Aturan

Selain faktor harga, tantangan logistik menjadi “hantu” tersendiri bagi industri. Jadwal kapal pengangkut kini sulit diprediksi, membuat alur produksi menjadi tidak menentu. Fajar menambahkan, “Feedstock harga juga naik banyak sekali, dan ketidakpastian angkutan kapal juga susah diprediksi.”

Di tengah himpitan ini, harapan tipis digantungkan pada momentum pasca-hari raya. Para pelaku industri berharap tensi geopolitik bisa mendingin sehingga mereka dapat merumuskan langkah taktis yang lebih terukur.

“Semoga setelah Lebaran semakin kondusif sehingga bisa membuat strategi yang lebih bagus untuk jangka pendek,” pungkasnya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com