NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Krisis politik di Washington kini mulai merambah ke gerbang-gerbang udara Amerika Serikat. Penutupan sebagian pemerintahan (partial government shutdown) yang kedua kalinya di tahun 2026 ini telah memasuki hari ke-32, membawa industri penerbangan Negeri Paman Sam ke titik nadir.
Pejabat senior di pemerintahan Donald Trump memperingatkan bahwa jika kebuntuan anggaran ini tidak segera berakhir, penutupan operasional di sejumlah bandara kecil hanya tinggal menunggu waktu.
Petugas TSA Bertahan Tanpa Gaji
Sejak pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) terputus pada 14 Februari 2026, sekitar 50.000 petugas Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) dipaksa tetap bekerja meski tanpa kepastian upah. Dampaknya mulai terasa nyata yaitu pada Minggu (15/3/2026), tingkat ketidakhadiran petugas mencapai 10% secara nasional.
Pelaksana Tugas Wakil Administrator TSA, Adam Stahl, memberikan peringatan keras dalam wawancaranya dengan Fox News. Ia menyebut bahwa lonjakan absennya petugas dapat memicu penghentian total aktivitas di bandara-bandara dengan skala kecil.
“Seiring berjalannya minggu-minggu berikutnya, jika ini terus berlanjut, tak berlebihan untuk mengatakan bahwa kita mungkin harus benar-benar menutup bandara, terutama bandara yang lebih kecil, jika tingkat ketidakhadiran meningkat,” ujar Stahl.
Titik Kritis di Bandara Besar
Situasi di bandara-bandara internasional tak kalah mengkhawatirkan. Ketua DPR, Mike Johnson, mengakui bahwa infrastruktur transportasi udara saat ini telah mencapai titik kritis. Di Atlanta, New York JFK, hingga Houston, tingkat ketidakhadiran petugas melonjak hingga 20% angka yang sangat jauh dari rata-rata normal di bawah 2%.
Akibatnya, pemandangan antrean panjang yang mengular hingga dua jam atau lebih menjadi hal lumrah bagi para pelancong. Data DHS mencatat bahwa setidaknya 366 petugas TSA telah memilih untuk mengundurkan diri sejak penutupan pemerintahan dimulai.
Ancaman di Musim Libur
Krisis ini terjadi di saat yang sangat tidak tepat. Maskapai penerbangan memprediksi musim semi tahun ini akan memecahkan rekor dengan perkiraan 171 juta penumpang. Para CEO maskapai pun mendesak pemerintah untuk segera mencari jalan keluar demi menyelamatkan musim liburan.
Sebagai pengingat, pada Oktober 2025 lalu, penutupan pemerintahan selama 43 hari telah memaksa FAA memangkas jadwal penerbangan sebesar 10% di bandara-bandara utama untuk menjaga faktor keselamatan.
Lumpuhnya pendanaan ini merupakan buntut dari kegagalan Kongres mencapai kesepakatan terkait reformasi penegakan imigrasi yang diajukan oleh Partai Demokrat. Selama kesepakatan politik belum tercapai, para petugas garda depan bandara tetap harus bekerja dengan “perut kosong”.
Di beberapa daerah, pengelola bandara bahkan mulai menggalang dana darurat demi membantu para pekerja TSA membeli kebutuhan pokok dan makanan, sebuah potret ironis di salah satu negara dengan sistem penerbangan tersibuk di dunia.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














