Belanda Larang HP di Sekolah, Fokus Siswa Meningkat dan Perundungan Menurun

0
anak
Ilustrasi anak-anak memegang hp. Foto : Istock

NARASITODAY.COM,AMSTERDAM – Papan kuning mencolok di Cygnus Gymnasium Amsterdam berdiri sebagai barikade pertama. Di gerbangnya, sebuah slogan tegas menyapa setiap siswa yang datang: “Telefoon thuis of in de kluis” ponsel di rumah atau di dalam loker.

Dua tahun sudah Belanda menjalankan eksperimen sosial besar-besaran di lingkungan pendidikan. Tanpa perlu payung hukum undang-undang, sebuah kesepakatan nasional antara pemerintah, sekolah, dan orang tua telah berhasil “mengusir” ponsel pintar, smartwatch, hingga tablet dari ruang kelas, koridor, hingga kantin sekolah.

Bagi Hena dan Fena, dua siswi di Cygnus Gymnasium, kebijakan ini awalnya terasa seperti gangguan. Mereka harus selalu waspada agar tidak terkena teguran guru. Namun, di balik rasa menyebalkan itu, mereka menemukan sesuatu yang telah lama hilang: kehadiran fisik teman-teman saat jam istirahat.

Baca Juga :  Clear, Dishub Kabupaten Bogor Tidak Terlibat Dalam Pemotongan Kompensasi Untuk Para Supir di Jalur Puncak

“Memang agak menyebalkan, tapi bukan berarti hak kami dilanggar. Mungkin sekarang kami lebih fokus dan hadir sepenuhnya saat jam istirahat. Mungkin sekarang kami lebih menikmati momen karena tidak ada lagi orang yang benar-benar terpaku pada ponsel mereka,” tutur mereka kepada BBC.

Sentuhan positif ini juga dirasakan oleh para pengajar. Ida Peters, salah satu guru di sana, mengaku beban kerjanya dalam menarik perhatian siswa kini jauh lebih ringan.

“Sebagai guru, selalu menantang untuk membuat siswa fokus. Sekarang HP lebih jarang muncul di kelas, dan itu sangat membantu konsentrasi mereka,” ujar Ida.

Dampak kebijakan ini bukan sekadar perasaan subjektif. Studi pemerintah terhadap 317 sekolah menengah di Belanda menunjukkan angka yang signifikan:

  • Tiga perempat sekolah melaporkan peningkatan konsentrasi siswa di kelas.
  • Dua pertiga sekolah melihat perbaikan iklim sosial di lingkungan pendidikan.
  • Penurunan angka perundungan seiring dengan hilangnya akses gadget selama jam sekolah.
Baca Juga :  SNBP 2026 Buka Registrasi Akun, Gerbang Masuk PT Jalur Prestasi Kini di Ujung Jari

Meski begitu, transisi ini tidak mudah bagi semua orang. Felix dan Karel (15), yang terbiasa menghabiskan hingga lima jam sehari di media sosial, sempat merasa terguncang. Bahkan, salah satu dari mereka sempat berpikir ekstrem saat aturan ini pertama kali muncul.

“Ketika pertama kali mendengar beritanya, aku berpikir ingin pindah sekolah saja karena ini bukan tujuan utamaku datang ke sini,” aku salah satu dari mereka. Namun kini, mereka mengakui bahwa dampak positifnya nyata dalam keseharian sekolah.

Kesuksesan di sekolah kini mendorong pemerintah Belanda melangkah lebih jauh. Mereka tengah mengkaji pembatasan akses media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Snapchat bagi remaja di bawah usia 15 tahun di seluruh kawasan Uni Eropa.

Baca Juga :  5 Elemen yang Bikin HP Kamu Terasa Premium Tanpa Harus Punya Spesifikasi Tertinggi

Langkah ini didukung oleh data mengejutkan dari UNICEF Belanda: 69 persen anak dan remaja justru mendukung pembatasan tersebut. Mereka khawatir akan kecanduan dan keamanan mental mereka sendiri.

Namun bagi remaja seperti Karel yang sudah merasa “terikat” secara digital, ancaman aturan baru ini terasa berat.

“Aku agak kecanduan, aku langsung membuka TikTok begitu bangun tidur atau mengecek pesan dari teman-teman,” katanya jujur, sembari menambahkan bahwa ia akan “sedikit hancur” jika larangan itu benar-benar berlaku.

Pemerintah Belanda berargumen sederhana yaitu jika negara memiliki kekuatan untuk membatasi alkohol dan judi demi melindungi rakyatnya, maka platform digital yang dirancang untuk menimbulkan adiksi sudah sepatutnya mendapatkan perlakuan yang sama.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com