Ekspansi Manufaktur Korea Selatan Capai Puncak Empat Tahun, Semikonduktor Jadi Lokomotif Pertumbuhan

0
Korea Selatan
Ilustrasi Orang-orang berjalan menyusuri jalanan malam Sinchon yang diterangi lampu neon di jantung kota Seoul.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, SEOUL – Di tengah deru mesin pabrik yang kian kencang, sektor manufaktur Korea Selatan berhasil mencetak rekor ekspansi tercepat dalam empat tahun terakhir. Meski demikian, gemuruh konflik di Timur Tengah mulai memberikan tekanan pada sisi ekspor yang menjadi urat nadi ekonomi Negeri Gingseng tersebut.

Berdasarkan data survei S&P Global yang dirilis Rabu (1/4/2026), Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Korea Selatan melonjak ke angka 52,6 pada Maret, naik signifikan dari posisi 51,1 di bulan sebelumnya. Angka ini merupakan titik tertinggi sejak Februari 2022, menandakan gairah industri yang kian memanas melampaui ambang batas netral 50,0.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Luncurkan Program BSU, Dorong Daya Beli di Tengah Ketidakpastian Global

Chip dan Produk Baru Jadi Motor Utama

Pendorong utama dari rapor hijau ini adalah sektor semikonduktor yang terus haus akan produksi, ditambah dengan momentum peluncuran berbagai lini produk baru ke pasar global. Peningkatan produksi pada bulan ini tercatat sebagai yang paling agresif sejak Agustus 2024.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Batti, menyoroti bahwa kombinasi antara daya beli domestik dan inovasi produk menjadi kunci sukses bulan ini.

Baca Juga :  Fakta Baru Terungkap dalam Sidang Banding Brenton Tarrant, Pelaku Penembakan Massal di Christchurch

“Penguatan ekonomi domestik serta peluncuran produk baru menjadi pendorong utama ekspansi sektor manufaktur,” ujar Usamah Batti dalam keterangan resminya.

Tantangan Ekspor dan Inflasi Biaya

Namun, di balik angka pertumbuhan yang memukau, mulai muncul keretakan pada permintaan luar negeri. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dilaporkan mulai menghambat laju pesanan ekspor, memaksa pertumbuhan pesanan internasional melambat ke level terendah dalam empat bulan terakhir. Beruntung, permintaan yang stabil dari Amerika Serikat dan kawasan Asia lainnya masih mampu menjadi bantalan.

Baca Juga :  Baskara Putra Lantang Kritik Kenaikan PPN 12%, Perhatian pada Kondisi Ekonomi Rakyat

Masalah tidak berhenti di situ. Para produsen kini harus berhadapan dengan “cekikan” biaya produksi. Harga input meroket pada laju tercepat sejak Juni 2022, imbas dari fluktuasi harga minyak mentah dunia dan nilai tukar won yang melemah.

Kondisi ini menempatkan manufaktur Korea Selatan dalam posisi yang unik: sedang berada di puncak performa produksi, namun harus waspada penuh terhadap turbulensi global yang bisa sewaktu-waktu mengerem laju pertumbuhan.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber