BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Lebih Kering di Indonesia

0
Musim kemarau
Ilustrasi tanah kering saat musim kemarau.foto:istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Indonesia bersiap menghadapi tantangan iklim yang serius tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan sinyal peringatan bahwa sebagian besar wilayah nusantara akan segera memasuki musim kemarau yang diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya.

Hingga akhir Maret 2026, beberapa titik di Aceh, Sumatera Utara, Riau, hingga sebagian Sulawesi dan Papua Barat dilaporkan sudah mulai merasakan teriknya matahari musim kemarau. Namun, gelombang utama kekeringan diperkirakan baru akan menyapu wilayah lainnya secara bertahap pada bulan April, Mei, dan Juni mendatang.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengimbau publik untuk tetap waspada dan memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi.

BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi,” ujar Faisal di Jakarta, Minggu (5/4/2026).

Baca Juga :  Badan Nasional Penanggulangan Bencana Catat Beragam Kejadian Bencana di Indonesia Akhir Januari 2026

Bayang-Bayang El Niño di Semester Kedua

Kekhawatiran para ahli meteorologi bukan tanpa alasan. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan adanya peluang berkembangnya fenomena El Niño pada semester kedua tahun 2026. Meskipun saat ini kondisi indeks laut (ENSO dan IOD) masih berada pada fase netral, pemodelan iklim menunjukkan tren yang mengarah pada penguatan suhu permukaan laut.

“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20%) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat,” jelas Ardhasena.

Baca Juga :  Pameran 75 Artefak Nabi Muhammad SAW di Bogor Jadi Ruang Edukasi Sejarah Islam dan Religiusitas

BMKG juga mengingatkan adanya tantangan teknis dalam prediksi saat ini yang disebut spring predictability barrier. Ini adalah fenomena penurunan akurasi model cuaca saat belahan Bumi utara melewati musim semi (Maret-Mei). Oleh karena itu, tingkat kepercayaan prediksi akan jauh lebih tinggi pada hasil bulan Mei mendatang.

Namun, pesan utamanya tetap jelas: Indonesia harus bersiap untuk kondisi yang tidak biasa.

“Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya,” tambah Ardhasena.

Puncak Kemarau pada Agustus 2026

Berdasarkan dokumen “Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026”, berikut adalah poin-poin krusial yang perlu diantisipasi:

  • Datang Lebih Awal: Sebanyak 46,5% wilayah Zona Musim (ZOM) diprediksi masuk kemarau lebih cepat dari jadwal biasanya.
  • Lebih Kering: Sekitar 64,5% wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan di bawah kategori normal (bawah normal).
  • Puncak Agustus: Sebagian besar wilayah (61,4%) akan mencapai titik terpanas dan terkering pada bulan Agustus 2026.
  • Durasi Lebih Lama: 57,2% wilayah akan merasakan musim kemarau dengan durasi yang lebih panjang dari rata-rata sejarahnya.
Baca Juga :  Jaro Ade Hadiri Sinergitas Penataan Tambang MBLB Bersama KPK

Dengan prediksi yang menunjukkan kemarau datang lebih awal, lebih kering, dan lebih lama, manajemen sumber daya air dan kesiapsiagaan sektor pertanian menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika iklim tahun ini.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com