Pelaku Penembakan di Shreveport Tewas Ditembak Polisi Setelah Kejar-kejaran Menegangkan

0
Shreveport
Ilustrasi tembakan pistol.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,SHREVEPORT – Suasana pagi yang biasanya tenang di kawasan permukiman kota Shreveport berubah drastis menjadi duka mendalam. Pada Minggu (19/4/2026), sebuah insiden penembakan massal merenggut nyawa delapan anak dalam peristiwa yang disebut pihak berwenang sebagai bagian dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Kepolisian setempat mengonfirmasi bahwa pelaku tewas setelah ditembak aparat dalam pengejaran kendaraan. Insiden ini meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi komunitas yang selama ini dikenal relatif tenang.

Juru bicara kepolisian Shreveport, Christopher Bordelon, mengungkapkan kepada stasiun televisi lokal KTBS bahwa tujuh jenazah anak ditemukan di dalam rumah. Sementara satu korban lainnya ditembak saat berusaha melarikan diri melalui atap. Para korban diketahui berusia antara 1 hingga 14 tahun.

“Tempat kejadian perkara sangat mengerikan,” ujar Bordelon, menggambarkan kondisi di lokasi.

Baca Juga :  Pekerja Proyek Internet di Bogor Tewas Mengenaskan Akibat Sengatan Listrik Tinggi

Informasi awal menyebutkan, rangkaian kejadian bermula ketika pelaku menembak seorang perempuan. Setelah itu, ia bergerak beberapa blok menuju rumah tempat anak-anak tersebut berada. Polisi juga mengungkapkan bahwa pelaku memiliki anak yang tinggal di rumah tersebut, menambah kompleksitas kasus yang kini diselidiki sebagai kekerasan domestik.

Pelaku kemudian diidentifikasi sebagai Shamar Elkins, sebagaimana dikonfirmasi oleh Direktur Komunikasi Kantor Wali Kota Shreveport, Leigh Anne Evensky, kepada Reuters.

Secara keseluruhan, Bordelon menyebut sedikitnya 10 orang menjadi korban tembakan, meski kondisi korban selamat belum dirinci lebih lanjut.

Usai melakukan aksinya, pelaku membajak sebuah kendaraan dan melarikan diri. Aksi kejar-kejaran dengan aparat berlanjut hingga ke wilayah Bossier Parish, sebelum polisi menembak kendaraan tersebut dan menewaskan pelaku. Penembakan oleh aparat kini tengah diselidiki oleh Louisiana State Police.

Baca Juga :  Kasus KDRT di Bogor, Suami Siri Aniaya Istri dengan Senjata Tajam

Wali Kota Shreveport, Tom Arceneaux, menyebut tragedi ini sebagai salah satu yang paling buruk dalam sejarah kota tersebut.
“Ini adalah situasi tragis, mungkin situasi tragis terburuk yang pernah kami alami,” ujarnya.

Di tengah duka, dorongan untuk perubahan mulai menguat. Otoritas setempat tengah mendorong pembentukan pusat komprehensif untuk penanganan KDRT, sebuah inisiatif yang didukung oleh kantor wali kota dan aparat penegak hukum.

Dalam konferensi pers, Senator Negara Bagian Louisiana, Sam Jenkins, menegaskan pentingnya peningkatan sumber daya untuk menangani kekerasan domestik.
“Jika kita memiliki seseorang dengan riwayat kekerasan dalam rumah tangga, mari pastikan bahwa sumber daya dan intervensi itu tersedia secara berkelanjutan dan konsisten, dengan harapan dapat menghindari apa yang kita lihat hari ini,” kata Jenkins.

Reaksi juga datang dari tingkat nasional. Ketua DPR AS, Mike Johnson, yang berasal dari Shreveport, menyebut insiden tersebut sebagai “tragedi yang memilukan”. Sementara Gubernur Louisiana, Jeff Landry, menyatakan dirinya dan keluarga “mendoakan semua yang terdampak.”

Baca Juga :  Akses Jalan Terputus, Muspika Sukajaya Bersama Warga Bersihkan Tanah Longsor

Tragedi ini kembali menyoroti tingginya angka kekerasan senjata api di Amerika Serikat. Data dari Gun Violence Archive mencatat, tanpa memasukkan kasus ini, telah terjadi sedikitnya 119 penembakan massal sepanjang tahun ini, dengan 117 korban tewas termasuk 79 anak-anak serta 458 orang terluka.

Lembaga tersebut mendefinisikan penembakan massal sebagai insiden di mana setidaknya empat orang, tidak termasuk pelaku, terluka atau tewas akibat tembakan. Sepanjang tahun lalu, tercatat 407 kasus penembakan massal di Amerika Serikat.

Di balik angka-angka itu, tragedi di Shreveport menjadi pengingat pahit: kekerasan domestik yang tak tertangani dapat berujung pada kehilangan yang tak tergantikan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com