Dari Limbah Jadi Berkah, Cara “Jimmy Hantu” Sulap Sisa Dapur SPPG Jadi Pupuk Bernilai Ekonomi

0
Praktisi pertanian Sujimin alias “Jimmy Hantu” menunjukkan hasil panen jagung yang ditanam menggunakan pupuk organik dari limbah dapur SPPG di Desa Sukamantri, Tamansari, Bogor. Foto : Ist

NARASITODAY.COM, BOGOR- Di tengah masifnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), persoalan limbah dapur kerap luput dari perhatian. Namun di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, limbah justru diubah menjadi peluang ekonomi.

Adalah Sujimin, praktisi pertanian yang akrab disapa “Jimmy Hantu”, yang memperkenalkan cara sederhana namun efektif dalam mengelola limbah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Melalui sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), sisa cucian bahan makanan diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat.

Di dapur SPPG Yayasan Mutiara Keraton Solo, limbah cair dari aktivitas memasak tidak langsung dibuang.

Limbah tersebut lebih dulu melewati lima tahapan penyaringan dalam bak kontrol yang dirancang berlapis.

Baca Juga :  Direktur IMF Tegaskan Komitmen G20 Tangani Utang Negara Berkembang

“IPAL ini bukan seperti septic tank. Kita buat bertahap, kotak per kotak, supaya limbah tersaring dengan baik dan tidak menimbulkan bau,” ujar Jimmy saat ditemui di lokasi.

Setelah melalui proses penyaringan, air limbah dialirkan ke lahan pertanian. Hasilnya, tanaman jagung yang ditanam di sekitar lokasi tumbuh subur tanpa tambahan pupuk kimia.

Menurut Jimmy, limbah dapur pada dasarnya merupakan bahan organik yang bisa kembali ke tanah. Sisa cucian sayur, daging, dan bahan makanan lain masih mengandung unsur hara yang berguna bagi tanaman.

“Kalau dikelola dengan benar, ini bukan limbah, tapi sumber nutrisi. Yang penting, jangan asal buang karena bisa mencemari lingkungan,” katanya.

Ia menjelaskan, sistem IPAL yang digunakan cukup sederhana. Setiap kotak penyaringan berukuran sekitar satu meter persegi dan dibangun tidak terlalu dalam untuk mencegah pencemaran.

Baca Juga :  Mengenal 5 Manfaat Temulawak: Dari Obat Tradisional hingga Pengobatan Modern

Limbah juga dipisahkan antara organik dan non-organik, lalu rutin dibersihkan setiap pekan.

Selain itu, limbah yang telah tersaring diberi tambahan bakteri pengurai agar proses menjadi pupuk organik berlangsung optimal.

Tak hanya limbah cair, sisa sampah organik padat pun dimanfaatkan. Dengan metode penguraian dan penyebaran langsung ke lahan, sampah tersebut menjadi pupuk alami tanpa menimbulkan bau busuk.

Edukasi pengelolaan limbah ini juga dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Siswa TK Mutiara Hati diajak melihat langsung proses pengolahan hingga panen jagung manis hasil pupuk organik tersebut.

Baca Juga :  Tim Serigala Sedang Mencari Pengganti Ryan, Emil Audero Antara Nama-Nama Target

Menariknya, jagung yang dipanen bahkan dapat dikonsumsi langsung dalam kondisi mentah, dengan rasa manis alami.

“Ini bukti kalau hasilnya aman. Limbah bukan ancaman, tapi bisa jadi cuan,” tegas Jimmy.

Ia mengingatkan, keberadaan IPAL menjadi syarat penting bagi dapur SPPG. Tanpa pengelolaan yang baik, limbah berpotensi menimbulkan bau dan mengganggu masyarakat sekitar.

“Kalau dapur tidak punya IPAL dan menimbulkan masalah, bisa saja ditutup. Jadi pengelolaan limbah itu wajib,” katanya.

Jimmy juga menekankan bahwa limbah tidak boleh dibuang sembarangan ke saluran irigasi atau disedot layaknya limbah domestik biasa.

Menurutnya, pendekatan terbaik adalah mengolah limbah menjadi sesuatu yang bernilai.

“Jangan dibuang, tapi dimanfaatkan. Dari situ justru bisa menghasilkan,” pungkasnya.

Wartawan : Andreas