Jepang Buka Peluang Transfer Alutsista ke Indonesia, Tingkatkan Sinergi Militer di Tengah Ketegangan Regional

0
Kota Yubari
Ilustrasi Bendera Jepang berkibar.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi melangkah ke gedung Kementerian Pertahanan RI dengan agenda yang melampaui sekadar diplomasi seremonial. Kunjungannya pekan ini bukan sekadar kunjungan kenegaraan biasa, melainkan penegasan posisi Tokyo dalam peta geopolitik Asia Tenggara yang kian memanas.

Koizumi secara resmi bertemu dengan Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, untuk menandatangani pakta kerjasama pertahanan komprehensif. Kesepakatan ini mencakup bantuan kemanusiaan, penanggulangan bencana, hingga latihan militer bersama. Namun, dibalik poin-poin tersebut, terdapat gema yang lebih besar yaitu Jepang kini mulai membuka pintu transfer alutsista setelah mencabut larangan ekspor senjata mematikan.

Diplomasi Fregat dan Kapal Selam

Bagi Indonesia, kerja sama ini bukan sekadar urusan di atas kertas. Nilainya sangat fantastis. Jakarta dikabarkan tengah menimbang serius pembelian delapan unit fregat kelas Mogami dengan nilai mencapai US$2,2 miliar atau sekitar Rp37,4 triliun. Tak hanya itu, negosiasi mengenai akuisisi kapal selam bekas Jepang pun terus bergulir.

Baca Juga :  Sapa Warga Jonggol, Cabup Rudy Susmanto Ingatkan Pilih Visi-misi Calon yang Realistis

Juru bicara Kementerian Pertahanan RI, Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa kesepakatan ini adalah gerbang menuju masa depan pertahanan yang lebih modern. “Kesepakatan ini membuka peluang kerja sama lebih luas dalam peralatan dan teknologi pertahanan,” ujarnya.

Menyeimbangkan Kekuatan di Laut China Selatan

Langkah berani Tokyo ini tak lepas dari sorotan tajam Beijing. Para analis melihat Jepang sedang memainkan peran sebagai “kekuatan penyeimbang” di tengah persaingan sengit antara Amerika Serikat dan China.

Yoichiro Sato, seorang profesor studi keamanan di Jepang, menilai bahwa langkah memperkuat negara-negara seperti Indonesia adalah strategi jangka panjang. “Memberdayakan negara-negara Asia Tenggara akan meningkatkan daya tawar diplomatik mereka terhadap China dalam sengketa maritim,” jelas Sato.

Baca Juga :  BPJS Kesehatan usul Tak Lagi Tanggung Biaya Penyakit Akibat Merokok Mulai 2025

Senada dengan itu, Alfin Febrian Basundoro, dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga, melihat posisi unik Jepang yang bisa diterima oleh negara-negara non-blok.

“Asia Tenggara sedang mencari mitra yang dapat diandalkan. Jepang ingin menjadi penyedia keamanan alternatif tanpa memaksa negara kawasan mengambil posisi ekstrem,” ungkap Alfin.

Sorotan Global dan Respons China

Meski Indonesia berupaya menjaga keseimbangan diplomatik, situasi berbeda membayangi perhentian Koizumi selanjutnya: Filipina. Di sana, kerja sama militer Jepang dianggap lebih konfrontatif bagi China. Analis pertahanan V.K. Parada menyebut transfer kapal militer ke Filipina bisa menjadi semacam “polis asuransi terhadap agresi China.”

Baca Juga :  Persaingan Memanas! Ducati Beri Peringatan kepada Bagnaia di Tengah Berebut Tempat Ke-3

Meski demikian, Beijing diprediksi akan tetap bereaksi. Parada menambahkan bahwa kerja sama pertahanan antara negara-negara yang memiliki sengketa dengan China secara alami akan memicu kritik keras dari Beijing.

Kunjungan Koizumi ke Jakarta dan Manila ini menjadi simbol nyata pergeseran kebijakan luar negeri Jepang. Dari negara yang cenderung pasif, kini Jepang tampil sebagai pemain kunci yang siap mempersenjatai mitra-mitranya di Asia Tenggara demi menjaga apa yang mereka sebut sebagai stabilitas kawasan.

Bagi Indonesia, ini adalah kesempatan memperkuat kedaulatan maritim yaitu bagi dunia, ini adalah sinyal bahwa dinamika di Laut China Selatan sedang memasuki babak baru yang lebih kompleks.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com