Densus 88 Polri Gandeng Kampus Cegah Penyebaran Radikalisme dan Terorisme di Kalangan Remaja

0
kampus
Ilustrasi Jejak kaki saat berjalan jauh.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Kampus sering kali dianggap sebagai kawah candradimuka bagi intelektualitas generasi muda. Namun, di balik diskusi-diskusi ilmiah, terdapat ancaman sunyi berupa infiltrasi paham radikalisme dan intoleransi yang mengintai para pelajar. Menyadari risiko tersebut, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri melangkah masuk ke lingkungan akademik untuk memperkuat benteng ideologi bangsa.

Pada Kamis (7/5/2026), suasana di kampus STAIN Majene, Sulawesi Barat, tampak berbeda. Alih-alih operasi penangkapan, personel Densus 88 hadir untuk menjalin sinergi melalui kegiatan Dialog Kebangsaan. Langkah ini merupakan upaya preventif untuk memastikan bahwa ruang-ruang diskusi mahasiswa tetap menjadi lahan subur bagi persatuan, bukan bibit perpecahan.

Baca Juga :  Sambuca Coffee, Sebuah Minuman yang Menjadi Simbol Kekayaan di Italia

Peran Strategis Akademisi

Kepala Satgas Wilayah Densus 88 Sulawesi Barat, AKBP Soffan Ansyari, menegaskan bahwa perguruan tinggi adalah mitra strategis dalam perang melawan ideologi terlarang. Menurutnya, edukasi di lingkungan pendidikan adalah cara paling ampuh untuk menutup celah sekecil apa pun yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok teror.

Dalam paparannya, Soffan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak lengah terhadap pergerakan paham yang merongrong stabilitas negara.

“Pentingnya sinergi seluruh elemen masyarakat dalam memperkuat nilai kebangsaan, toleransi, dan kewaspadaan terhadap penyebaran paham intoleran, radikal, dan terorisme guna menjaga stabilitas keamanan dan persatuan bangsa,” tutur Soffan di hadapan para civitas akademika.

Baca Juga :  UI Janji Perluas Afirmasi Mahasiswa, Targetkan 500 Lebih Kabupaten/Kota Ada Siswanya

Waspada Infiltrasi di Ruang Digital

Tantangan zaman kini telah berpindah dari ruang-ruang fisik ke layar ponsel. Kasubdit Kontra Radikal Direktorat Pencegahan Densus 88 Antiteror Polri, Kompol Ridjoko Suseno, turut menyoroti betapa cepatnya radikalisme menyebar melalui ruang digital dan menyusup ke lingkungan birokrasi.

Ia berharap melalui dialog ini, mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi bertransformasi menjadi “agen perdamaian” yang memiliki kemampuan deteksi dini terhadap lingkungan sekitarnya.

Mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen perdamaian dan persatuan, “serta berperan aktif dalam upaya pencegahan dan deteksi dini terhadap penyebaran paham intoleran, radikal, dan terorisme,” jelas Ridjoko.

Baca Juga :  Mencekam! Angin Puting Beliung Hantam Bojonggede Bogor

Membangun Kesadaran Kolektif

Pendekatan “lunak” (soft approach) yang dilakukan Densus 88 di Majene ini menunjukkan bahwa penanganan terorisme kini lebih mengedepankan hulu daripada hilir. Pencegahan sejak dini dianggap jauh lebih krusial dibandingkan penindakan setelah peristiwa terjadi.

Dengan berakhirnya dialog tersebut, pesan yang tertinggal bagi para mahasiswa STAIN Majene cukup jelas: bahwa menjaga kedaulatan bangsa dimulai dari menjaga kejernihan berpikir dan keteguhan ideologi di dalam kampus. Kehadiran Densus 88 kali ini bukan untuk menebar ketakutan, melainkan untuk mengajak kaum intelektual muda berdiri di garis depan melawan intoleransi.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com