
NARASITODAY.COM,JAKARTA – Cahaya biru layar gawai yang kian akrab di tangan anak-anak Indonesia, tersimpan alarm bagi masa depan mereka. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mengungkapkan fakta mengkhawatirkan yaitu hampir 40 persen anak usia dini menghabiskan waktu di dunia digital lebih dari dua jam setiap harinya. Angka ini melampaui ambang batas satu jam yang direkomendasikan para ahli kesehatan anak.
Merespons fenomena ini, pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), bersama Tanoto Foundation meluncurkan buku cerita bertajuk ‘Misi untuk Raka’. Buku ini hadir sebagai “senjata” baru bagi orang tua untuk menarik anak kembali ke dunia nyata melalui interaksi sosial yang hangat.
Membangun Dialog di Tengah Gempuran Digital
Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menegaskan bahwa gawai yang tidak terkontrol dapat merampas kebutuhan dasar anak untuk bergerak dan bersosialisasi. Ia melihat keluarga sebagai benteng utama dalam menghadapi tantangan ini.
“Tanpa pengawasan yang jelas dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak, penggunaan gawai berlebihan berisiko mengganggu kebutuhan dasar anak akan aktivitas fisik, interaksi sosial, dan pengalaman belajar yang sesuai dengan tahap perkembangannya,” ujar Arifah Fauzi dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).
Arifah menambahkan bahwa buku ini bukan sekadar bacaan, melainkan instrumen bagi orang tua untuk menemukan kembali kegembiraan bersama anak. “Perlu kolaborasi banyak pihak untuk menjaga pertumbuhan anak Indonesia optimal… Inilah mengapa melalui buku ini kami berkolaborasi dengan Kemendikdasmen dan Tanoto Foundation,” sambungnya.
Sentuhan Karakter dan Gerakan Indonesia Hebat
Di sisi lain, Staf Khusus Mendikdasmen, Rita Pranawati, menyoroti pentingnya penguatan karakter sejak dini. Baginya, buku Misi untuk Raka selaras dengan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang diusung kementeriannya.
“Di tengah pesatnya era digital yang membawa tantangan seperti adiksi gawai hingga rendahnya literasi digital, pendidikan harus merespons tidak hanya melalui aspek akademik, tetapi juga penguatan karakter yang fundamental,” kata Rita. Ia menyambut baik kehadiran buku ini sebagai alternatif positif bagi anak-anak untuk mengeksplorasi potensi diri mereka.
Program ini terlihat pada pendekatan #SeruTanpaLayar yang ditawarkan buku tersebut. Anak-anak diajak untuk bergerak, membaca, berbuat baik, dan berkarya. Tak hanya untuk anak, orang tua pun dibekali prinsip 3S (screen time, screen break, dan screen zone) guna menciptakan pola asuh yang seimbang.
Eddy Henry, Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation, menekankan bahwa teknologi memang tak terpisahkan, namun ruang fisik tetaplah yang utama bagi anak usia dini.
“Teknologi telah menjadi bagian dari kegiatan keseharian keluarga. Namun, anak usia dini tetap membutuhkan ruang untuk bergerak, bermain, membaca, berkarya, dan membangun interaksi sosial secara nyata,” jelas Eddy.
Sebagai informasi, Misi untuk Raka merupakan seri keempat dari kolaborasi Buku Cerita Anak SIGAP. Sejak 2021, kerja sama ini telah melahirkan berbagai judul edukatif guna meningkatkan kualitas literasi dan pengasuhan di Indonesia.
Masyarakat dapat mengakses buku ini secara cuma-cuma melalui laman resmi Tanoto Foundation, sebagai langkah awal membebaskan anak dari ketergantungan layar yang berlebihan.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com













