Jelang Kunjungan Presiden Jerman, Investor Negeri Panzer Dinilai Masih Lirik Potensi Besar Indonesia

0
Jerman
Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste.Foto : ntvnews.id

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Badai ketidakpastian ekonomi dan ketegangan geopolitik global yang tengah menyelimuti dunia, Indonesia rupanya tetap memiliki daya pikat tersendiri. Negara kepulauan ini dinilai masih menjadi salah satu tujuan investasi yang sangat seksi dan menjanjikan bagi para pelaku usaha asal Jerman.

Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, menegaskan bahwa pemerintah maupun sektor swasta Jerman melihat Indonesia bukan sekadar mitra biasa, melainkan pilar penting yang memiliki potensi raksasa untuk memperdalam hubungan ekonomi bilateral, baik dalam sektor perdagangan maupun keran investasi.

“Secara umum, kami melihat Indonesia sebagai negara yang memiliki sangat banyak potensi untuk hubungan ekonomi yang lebih intensif. Perusahaan-perusahaan Jerman ingin berinvestasi jika peluang yang tepat tersedia di Indonesia,” kata Beste dalam konferensi pers di Kedutaan Besar Jerman, Jakarta, Jumat (12/6/2026).

Sinyal kedekatan ekonomi ini akan semakin nyata dalam beberapa hari ke depan. Pernyataan Beste tersebut menjadi pengantar menjelang kunjungan resmi Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, ke Indonesia pada 15 Juni mendatang.

Baca Juga :  Pemerintah Indonesia Rencanakan Penempatan Pasukan ke Jalur Gaza sebagai Kontribusi Perdamaian Internasional

Tidak datang sendiri, Steinmeier dijadwalkan bertemu Presiden Prabowo Subianto dengan memboyong delegasi bisnis kelas berat dari berbagai sektor strategis, mulai dari logistik, mobilitas tenaga kerja, digitalisasi, hingga industri manufaktur.

Hubungan Dua Arah dan Transfer Teknologi

Menariknya, Jerman tidak hanya ingin menanamkan modalnya di tanah air. Beste menekankan bahwa hubungan ini harus berjalan dua arah. Berlin kini tengah membuka pintu lebar-lebar dan mempermudah regulasi bagi para sultan maupun korporasi asal Indonesia untuk mengepakkan sayap bisnisnya di jantung Eropa.

“Kami juga ingin perusahaan dan individu Indonesia berinvestasi di Jerman. Pemerintah Jerman sedang menciptakan banyak peluang investasi baru yang mungkin menarik bagi perusahaan Indonesia,” ujarnya.

Bagi Beste, investasi bukan sekadar urusan angka di atas kertas atau aliran modal semata. Ada esensi yang lebih besar di dalamnya, yaitu transfer teknologi, pengetahuan, dan keahlian (know-how). Kehadiran pelaku usaha Indonesia di Jerman, begitu pula sebaliknya, diyakini akan merajut hubungan kedua negara menjadi jauh lebih intim dan saling menguntungkan.

Baca Juga :  Presiden IWbF Sebut Kejuaraan Asia Woodball 2025 di Bogor Salah Satu Terbaik di Dunia

Saat ini, urat nadi perdagangan antara Indonesia dan Jerman sudah berada di angka yang cukup fantastis, yakni mencapai sekitar US$7 miliar atau setara Rp124 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS). Namun, angka ini diprediksi akan melonjak drastis berkat adanya perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA).

“Saya cukup optimistis proses ratifikasi dapat berjalan. Ada dukungan luas di Eropa terhadap perjanjian perdagangan dengan Indonesia dan saya juga melihat dukungan yang besar dari pihak Indonesia,” ungkap Beste optimis.

Baca Juga :  Maskapai Lufthansa Umumkan Pemangkasan Penerbangan Akibat Lonjakan Harga Bahan Bakar Jet

Jika proses ratifikasi berjalan mulus dan perjanjian ini resmi diketuk pada tahun 2027 mendatang, sebuah ‘jalan tol’ ekonomi akan terbuka. Sekitar 98% pos tarif perdagangan akan dipangkas hingga nol persen dalam kurun waktu 10 tahun. Penghapusan tarif ini dipercaya akan mendongkrak rasa percaya diri para pelaku pasar karena adanya kepastian hukum dan bisnis yang lebih menjamin.

Saat ini, jejak bisnis Jerman sebenarnya sudah tertanam kuat dengan beroperasinya ratusan perusahaan mereka di tanah air. Ke depan, Jerman berharap Indonesia tidak hanya menjadi pasar konsumen, melainkan episentrum produksi untuk menguasai kawasan Asia Tenggara.

“Kami ingin perusahaan-perusahaan Jerman menggunakan Jakarta dan Indonesia sebagai basis produksi yang melayani pasar lebih luas, bukan hanya pasar domestik Indonesia. Kami melihat adanya peluang besar untuk itu,” pungkas Beste mengakhiri keterangannya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com