NARASITODAY.COM, FRANKFURT – Industri penerbangan global kini berada di titik nadir. Raksasa maskapai Jerman, Lufthansa, resmi mengumumkan pemangkasan besar-besaran sebanyak 20.000 jadwal penerbangan jarak pendek hingga Oktober 2026. Langkah drastis ini diambil setelah harga bahan bakar jet (avtur) meroket tajam akibat eskalasi perang Iran yang melumpuhkan jalur energi dunia.
Langkah efisiensi ini tidak hanya menyasar rute dari hub utama di Frankfurt dan Munich, tetapi juga diikuti dengan penutupan anak usaha regionalnya, CityLine, pekan lalu. Konsolidasi besar-besaran kini dilakukan di seluruh jaringan grup, mulai dari Lufthansa Airlines, SWISS, hingga ITA Airways.
Beban Berat di Selat Hormuz
Lonjakan harga avtur menjadi “predator” utama bagi profitabilitas maskapai. Sejak akhir Februari, harga bahan bakar jet global melonjak lebih dari dua kali lipat, dari US$99 (Rp1,68 juta) per barel menjadi US$209 (Rp3,55 juta) per barel.
Guncangan ini bersumber dari konflik di sekitar Selat Hormuz, jalur nadi yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dunia. Situasi kian kritis bagi Eropa, di mana stok bahan bakar jet dilaporkan hanya cukup untuk menopang operasional selama enam minggu ke depan.
Komisioner Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen, memberikan peringatan keras bahwa krisis ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa.
“Ini bukan kenaikan harga jangka pendek dan kecil,” tegas Jørgensen, sebagaimana dikutip dari The Associated Press, Kamis (23/4/2026).
Ia mengungkapkan bahwa perang tersebut menguras kantong Eropa hingga 500 juta euro per hari (sekitar Rp10,2 triliun). “Bahkan dalam skenario terbaik sekalipun, situasinya masih buruk,” tambahnya dengan nada suram.
Efek Domino Global
Di bandara-bandara dunia, penumpang mulai merasakan dampaknya secara nyata. Pilihan jadwal penerbangan kian terbatas, sementara tarif tiket dan biaya tambahan seperti fuel surcharge merangkak naik tepat saat musim liburan musim panas menjelang.
Data dari Cirium menunjukkan bahwa Lufthansa tidak sendirian dalam “badai” ini. Hampir seluruh dari 20 maskapai terbesar dunia, termasuk Delta Air Lines, Emirates, hingga Air France-KLM, terpaksa memangkas jadwal penerbangan mereka pada Mei mendatang.
Di Amerika Serikat, United Airlines bahkan harus merevisi target keuangan mereka secara drastis. Estimasi laba tahunan perusahaan kini dipangkas menjadi US$7-US$11 per saham, terjun bebas dari proyeksi awal sebesar US$12-US$14.
Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Meski berada dalam posisi defensif, manajemen Lufthansa mengklaim bahwa pasokan bahan bakar mereka masih aman untuk beberapa minggu ke depan melalui pengadaan langsung. Namun, pernyataan Jørgensen mencerminkan kecemasan yang lebih dalam di tingkat pemerintahan Uni Eropa.
Ia menyebut pemerintah negara-negara anggota “sangat khawatir” terhadap potensi kelangkaan energi yang lebih luas. Bagi dunia penerbangan, pesan yang tersirat saat ini sangat jelas: era tiket murah dan penerbangan fleksibel mungkin harus berakhir lebih cepat akibat ketidakpastian geopolitik yang belum menemui titik terang.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














