NARASITODAY.COM, TEXAS – Sektor peternakan Amerika Serikat kini tengah dihantui oleh kembalinya salah satu musuh paling mengerikan bagi hewan berdarah panas. Wabah screwworm atau larva lalat pemakan jaringan hidup dilaporkan kian mengganas. Dalam hitungan hari, jumlah kasus infeksi yang terkonfirmasi terus membengkak dan mulai merembet keluar dari zona awal penularan.
Layanan Inspeksi Kesehatan Hewan dan Tumbuhan (APHIS) di bawah Departemen Pertanian AS (USDA) melaporkan bahwa hingga pertengahan Juni 2026, telah tercatat 12 kasus infeksi pada hewan. Lonjakan ini terbilang sangat agresif mengingat kasus pertama baru ditemukan pada seekor anak sapi di wilayah Texas Selatan pada 3 Juni lalu.
“Ini seharusnya membunyikan alarm di seluruh negeri. Setiap hari kita menunda memberi hama ini kesempatan lain untuk menyebar,” ujar Komisaris Pertanian Texas, Sid Miller, dalam pernyataan resminya yang dikutip dari Guardian, Rabu (17/6/2026).
Dari Sapi hingga Anjing: Parasit Masa Lalu yang Bangkit Kembali
Berdasarkan data terbaru dari USDA, sebanyak 11 dari 12 kasus yang terdeteksi statusnya masih aktif. Kasus paling gres ditemukan pada 12 Juni di Sutton County, Texas Barat, setelah seekor domba dipastikan positif terinfeksi.
Tak hanya di Texas, pergerakan parasit ini juga telah terdeteksi menyeberang hingga ke Lea County di negara bagian New Mexico. Sejauh ini, jenis hewan yang dilaporkan menjadi korban bervariasi, mulai dari sapi, kambing, domba, hingga seekor anjing peliharaan.
Screwworm sendiri merupakan jenis larva lalat yang memiliki siklus hidup mengerikan; mereka berkembang biak di luka terbuka dan perlahan menggerogoti jaringan daging hidup inangnya. Padahal, parasit ini sempat dinyatakan hampir punah dari daratan AS pada dekade 1970-an dan selama puluhan tahun menjadi fenomena yang sangat langka.
Kembalinya sang parasit di tahun 2026 tentu memicu kecemasan hebat di kalangan peternak, terlebih di saat harga daging sapi di pasar AS sedang melonjak tinggi. Guna mengantisipasi dampak yang lebih luas, USDA meminta para peternak untuk super waspada terhadap gejala klinis seperti luka yang mendadak membesar, kemunculan belatung, atau lesi aneh pada tubuh ternak, serta segera melaporkannya ke otoritas terkait.
Meski terdengar mengerikan, USDA memberikan jaminan bahwa wabah ini sama sekali tidak mengancam ketahanan dan keamanan pangan nasional. Screwworm murni menyerang fisik hewan hidup dan tidak menginfeksi produk daging potong, buah, sayur, maupun komoditas pangan yang dikonsumsi masyarakat.
Perang Biologi Melawan Lalat Subur
Dalam upaya memukul mundur wabah ini, otoritas setempat tidak mau main-main. Sid Miller mendesak implementasi Screwworm Adult Suppression System (Swass), sebuah metode taktis menggunakan umpan khusus guna mematikan lalat dewasa yang masih produktif.
“Anda tidak memenangkan pertempuran ini dengan satu alat. Anda membunuh lalat yang subur dengan Swass sambil membanjiri populasi yang tersisa dengan lalat steril,” tegas Miller mengenai strategi berlapis tersebut.
Langkah konkret pun diambil oleh pemerintah pusat. Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, memaparkan bahwa pihaknya telah menggerakkan perang biologi dengan melepas sekitar 8 juta lalat steril ke alam liar yang dibagi rata sebanyak 4 juta melalui jalur darat dan 4 juta lainnya disebar lewat udara.
Sementara itu, gema kewaspadaan telah sampai ke negara bagian lain. Meski berada jauh dari episentrum, Pennsylvania langsung menerbitkan kebijakan karantina pencegahan. Langkah tegas ini diambil dengan memperketat jalur masuknya lalu lintas ternak dari wilayah yang terjangkit demi memastikan wilayah mereka tetap steril dari jangkauan larva pemakan daging tersebut.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














