NARASITODAY.COM,WASHINGTON D.C. – Sebuah rencana serangan teror mengerikan yang membidik jantung pemerintahan Amerika Serikat berhasil digagalkan. Biro Investigasi Federal (FBI) mengungkap bahwa pihaknya telah mematahkan plot serangan yang ditargetkan ke arah ajang tarung bebas Ultimate Fighting Championship (UFC) di Gedung Putih, yang dihadiri langsung oleh Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan lalu. Otoritas keamanan menegaskan, skenario keji ini berpotensi memicu timbulnya korban massal jika sampai lolos dari radar petugas.
Gedung Putih yang biasanya menjadi simbol supremasi politik, akhir pekan lalu disulap menjadi arena olahraga guna memperingati perayaan America 250 sekaligus ulang tahun ke-80 Trump. Namun, di balik kemeriahan lampu oktagon dan sorak-sorai ribuan pasang mata, bahaya besar sempat mengintai dari balik bayang-bayang.
Direktur FBI, Kash Patel, memaparkan bahwa jajarannya berhasil mengendus dan membongkar operasi rahasia kelompok tersebut pada 10 Juni. FBI pun langsung bergerak cepat meluncurkan operasi gabungan kilat bersama sejumlah lembaga penegak hukum lintas sektor.
“Berkat tindakan cepat FBI, mitra kami, dan Departemen Kehakiman dalam operasi multi-negara bagian, beberapa individu kini berada dalam tahanan, dan serangan yang diduga direncanakan berhasil dihentikan,” tulis Patel melalui akun X miliknya, seperti dikutip RT, Rabu (17/6/2026).
Skenario Berdarah: Drone Peledak Hingga Sniper
Berdasarkan laporan dari sejumlah media AS yang bersumber dari pejabat internal FBI, sedikitnya lima orang terduga pelaku telah diringkus oleh aparat. Kelompok radikal ini dituduh mengarsiteki konspirasi matang dengan rencana menerbangkan beberapa drone bermuatan bahan peledak, tepat ke arah lokasi pertandingan UFC yang digelar di halaman White House.
Kengerian tidak berhenti di sana. Berdasarkan berkas penyelidikan, setelah drone diledakkan dan memicu kepanikan luar biasa, para pelaku diduga telah bersiap melepaskan tembakan acak menggunakan penembak jitu (sniper) ke arah kerumunan massa yang berlarian menyelamatkan diri.
Tidak sampai di situ, penyidik juga mendeteksi adanya indikasi kuat bahwa kelompok ini berniat memanfaatkan situasi chaos tersebut untuk menjebol gerbang utama dan merangsek masuk ke dalam kompleks kepresidenan.
Patel mengungkapkan, infiltrasi digital yang dilakukan FBI berhasil mengidentifikasi 23 orang yang intens membahas “aktivitas pra-operasional” melalui ruang obrolan terenkripsi di aplikasi Signal.
Kendati demikian, pihak FBI masih enggan merinci lebih jauh mengenai jumlah pasti tersangka yang kini mendekam di sel tahanan, demi kepentingan pengembangan penyelidikan yang masih berjalan.
Pengamanan Ketat di Tengah Kontroversi
Ajang UFC di halaman kepresidenan ini sebenarnya sempat menuai polemik di kalangan publik karena dinilai tidak lazim menggunakan area sakral Gedung Putih untuk panggung hiburan komersial. Namun, acara tetap berjalan dengan dihadiri oleh lebih dari 4.000 penonton, termasuk sekitar 1.200 personel militer aktif.
Daya tarik acara ini juga luar biasa besar; tercatat sekitar 85.000 orang memadati kawasan Ellipse yang terletak di sebelah selatan Gedung Putih untuk menyaksikan laga melalui layar raksasa dalam acara nonton bareng berbayar.
Lolosnya ribuan nyawa dari potensi serangan mematikan ini kini memicu gelombang perhatian besar terhadap sistem pengamanan berlapis di sekitar Presiden AS. FBI menegaskan bahwa investigasi skala penuh masih terus digulirkan guna melacak seluruh jaringan dan aktor intelektual yang berada di balik plot teror yang nyaris menodai perayaan ulang tahun sang presiden tersebut.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













