NARASITODAY.COM,WASHINGTON D.C. – Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) dilaporkan tengah mempersiapkan langkah hukum besar terhadap mantan Presiden Kuba, Raul Castro. Pejabat senior DOJ mengungkapkan pada Kamis (14/5/2026) malam bahwa Washington berencana melayangkan dakwaan pidana terhadap tokoh revolusioner berusia 94 tahun tersebut.
Meski waktu pastinya masih menunggu persetujuan dewan juri (grand jury), pejabat yang meminta identitasnya dirahasiakan tersebut menyatakan bahwa proses hukum tampaknya akan dilakukan dalam waktu dekat.
Menagih Utang Darah di Selat Florida
Dalam laporan ini membawa kembali ingatan publik pada ketegangan Perang Dingin yang seolah menolak padam. Fokus utama dakwaan terhadap adik mendiang Fidel Castro ini diperkirakan berkaitan dengan insiden berdarah tiga dekade silam.
Laporan CBS menyebutkan kasus ini berakar pada penembakan jatuh pesawat milik kelompok kemanusiaan Brothers to the Rescue pada tahun 1996. Tragedi yang menewaskan sejumlah relawan di atas perairan internasional tersebut kembali menjadi senjata diplomatik AS untuk menekan rezim komunis di Havana.
Langkah ini diambil di bawah bayang-bayang kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump yang kian agresif. Pemerintahan Trump secara konsisten menyebut rezim Kuba saat ini sebagai entitas yang “korup dan tidak kompeten,” serta secara terbuka berupaya mendorong pergantian kekuasaan.
Blokade dan Diplomasi di Balik Layar
Langkah hukum ini muncul di tengah kondisi Kuba yang semakin terjepit. Washington saat ini memberlakukan blokade energi yang mengancam sanksi bagi negara pemasok bahan bakar ke pulau tersebut. Dampaknya nyata: pemadaman listrik massal meredupkan kota-kota di Kuba dan memperparah krisis ekonomi.
Di balik ketegangan tersebut, terdapat dinamika intelijen yang rumit. Meski negosiasi antarnegara sempat mandek akibat blokade, secara mengejutkan Havana mengonfirmasi telah bertemu dengan Kepala CIA, John Ratcliffe.
Menurut seorang pejabat CIA, Ratcliffe memberikan pesan tegas sekaligus tawaran bersyarat kepada intelijen Kuba. Ratcliffe disebut mengatakan bahwa AS siap terlibat dalam pembicaraan terkait keamanan ekonomi apabila Kuba melakukan “perubahan mendasar.”
Respons yang Tertunda
Hingga saat ini, Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Selatan Florida dikabarkan terus mengawasi pemeriksaan potensi dakwaan terhadap pejabat senior Kuba lainnya.
Sementara itu, kesunyian masih menyelimuti pihak Havana dan Washington secara resmi. Perwakilan Kementerian Luar Negeri Kuba maupun juru bicara Departemen Kehakiman AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait rencana dakwaan yang bisa mengubah peta hubungan kedua negara dalam sekejap ini.
Kini, dunia menanti apakah dakwaan terhadap Raul Castro akan menjadi penutup babak revolusi Kuba, atau justru menyulut api baru di kawasan Karibia.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














